30 Juli 2011

impian? impian! impian.

Impian?
gw gak mau menjawab hal ini dengan definitif mengikuti KBBI.
gw simplifikasikan dengan pemikiran sederhana yakni impian adalah suatu angan-angan yang gw cita-citakan dan gw ingin sekali meraihnya dalam kehidupan ini.

lalu gw ini ingin meraih apa kehidupan ini? banyak hal!
standard manusia yang terlahir dari keluarga dengan ekonomi tingkat menengah di Jakarta pada umumnya yang ingin meraih kemapanan secara lebih serta berada dalam zona nyaman minimal seperti di saat gw terlahir dalam keluarga kandung.
klo menuruti theme song Doraemon: "Ingin ini ingin itu banyak sekaliiiii!", sayangnya tidak ada kantong ajaib yang eksis di dunia ini untuk mengabulkan permintaan gw dengan sekejap supaya gw ada dalam kemapanan serta zona nyaman yang gw idam-idamkan.

secara spesifik: gw pengen ke Old Trafford, gw pengen ke San Siro, gw pengen terlibat dalam produksi film layar lebar, gw pengen nonton langsung konser 30 Seconds To Mars, gw pengen keliling Indonesia, gw pengen keliling Amerika Selatan, blabla (intinya mengunjungi tempat2 baru di dunia), gw pengen menikah dengan istri yang mau menerima segala kekurangan gw sehingga dia berhak atas segala kelebihan gw, gw pengen punya usaha di bidang jasa yang mampu membuat gw serta partner usaha serta para karyawannya hidup berkecukupan, gw pengen berkontribusi di bidang pendidikan terutama di wilayah timur Indonesia, dll

impian paling utama yang gw tuju dalam masa mendatang adalah menjadi manusia yang utuh. mampu mengenal Tuhan dengan lebih intim. tidak menjadi budak uang. tidak melakukan tindak pidana korupsi. menjadi manusia yang ideal di mata Tuhan, orang tua, sahabat, teman, rekan, masyarakat, dllllllll (mas Boy wannabe)

Impian!

muluk-muluk...
ya, muluk-muluk banget...
seorang sahabat saya bercerita tentang perjalanan dia berkeliling beberapa daerah di Indonesia untuk kepentingan pekerjaannya. Dia bercerita tentang "apa aja sih impian anak kecil, remaja, pemuda di daerah?".
Secara spesifik, daerah-daerah ini berada di luar pulau Jawa.
Beragam jawaban diberikan, dimulai dari ingin menjadi satpam, mandor pabrik, tukang batu, ahli mesin potong, dan yang paling prestisius adalah menjadi pegawai negeri. Bagi pemuda di daerah yang mengenyam pendidikan sampai tingkat D3/S1, impian mereka adalah ke Jakarta. Untuk menjadi apapun di Jakarta, tentu dengan cita-cita abadi khas anak daerah: Menaklukkan Jakarta!

Tentu setelah mendengar cerita tersebut di atas, gw jadi membandingkan impian gw dengan mereka. Jelas perbandingan impian ini adalah suatu hal yang ga terelakkan bagi gw, walau ga masuk akal sebetulnya jika cita-cita setiap orang dibanding-bandingkan. Lha, tiap orang itu punya karakter yang berbeda dan seharusnya ga dibandingkan tohh??
Kesimpulannya: Gw bilang impian gw itu muluk-muluk!
gw pengen merantau ke luar negeri untuk melihat ada apa aja sih di luar sana, sementara itu gw yakin banyak banget orang di luar daerah sana cukup puas ingin mencari penghidupan yang layak dengan ke merantau Jakarta.
sementara orang di luar daerah sana pengen jadi satpam, nha gw malah pengen jadi produser film.

gw berandai-andai nih, klo aja gw lahir di daerah misalnya di Kabupaten Bulukumba (Sulawesi Selatan)....
Apa iya gw punya impian semuluk gw sekarang?
Apa iya gw bakal sampai ke tahap pemikiran: gw tidak menghambakan serta hidup untuk mengejar uang, tapi gw ingin menghasilkan suatu karya yang akan dikenang orang.
Apa iya gw bakal mengenyam pendidikan yang luar biasa layak di Bandung?
serta beragam pertanyaan "Apa Iya" yang lainnya.

hidup menawarkan berbagai macam cerita yang nampaknya tidak kalah absurd dibandingkan dengan film Eraserhead yang luar biasa absurd.
hidup menawarkan peluang demi peluang yang mesti gw putuskan untuk mengambil atau tidak mengambilnya.
hidup menawarkan sebuah konsep kepercayaan yang bermuara pada agungnya kuasa Tuhan dan juga menawarkan sebuah konsep nihilistik.
Terlepas dari tawaran apapun yang nampak dalam hidup ini, satu hal yang pasti semua tawaran itu pada akhirnya merupakan suatu manifestasi dari adanya suatu impian yang hidup dalam pikiran kita.

menyebut 3 pengalaman pribadi:
"Apa jadinya jika gw tidak mengambil peluang untuk masuk kuliah di ITB lalu saya tidak mengambil peluang untuk menonton film Memento, apakah gw akan mempunyai impian untuk bekerja di industri film?"

"Apa jadinya jika gw mengambil peluang untuk tidur lebih cepat pada tahun 1996 sehingga gw tidak akan menonton final FA Cup antara MU vs Liverpool, apakah gw akan mempunyai impian untuk menonton MU di Old Trafford?"

"Apa jadinya kalau dulu gw gak mengambil peluang untuk mendengar lagu Attack dari 30 Seconds To Mars ketika gw lagi galau, apakah gw akan mengenal visi serta ide secara menyeluruh dari 30 Seconds To Mars yang sekarang ini masuk ke dalam hati gw serta membantu gw untuk tetap kuat mengejar impian?

Impian itu akan selalu ada merasuki pemikiran serta lubuk hati yang terdalam.
gw hanya bisa menutup tulisan ini dengan pertanyaan serta pertanyaan lainnya...
Lalu apakah kita akan berusaha mendapatkan impian itu? berusaha sekeras apa supaya kita bisa sampai ke tahap menjalani impian tersebut? Apakah gw ini terlalu naif dalam memandang "impian"? Apakah gw ini terlalu polos & terlalu kekanakan dalam memandang "impian"?

Pertanyaan-pertanyaan gw ini mungkin akan terjawab suatu saat nanti klo gw udah pergi dari dunia ini.
Satu hal yang pasti ketika impian itu dapat gw wujudkan, ada semangat berbeda yang muncul dari dalam diri gw. Ada gairah yang belum pernah gw rasakan mengalir dalam hidup ini, seakan-akan memberi tahu gw "1 sudah lo wujudkan, lo pengen wujudkan yang lainnya kan untuk merasakan gairah yang sama kayak sekarang?"

semua cerita ini bermula karena adanya

Impian.