23 Mei 2014

Dirinya

Tentang seseorang yang tidak berhenti menangis sesengukan di hadapanku malam ini...
Tentang seseorang yang ingin menyudahi kepalsuannya di hadapanku malam ini..
Tentang seseorang yang kehilangan jiwanya di hadapanku malam ini.

Tentang seseorang yang mulai membuka pembicaraan:

"Eh lo tau Diana kan? Pasti lo tau! Gue yakin banyak yang bermimpi bisa sama dia ...."

Dirinya tetiba terdiam. Menyeringai menatapku dengan sisa tangisnya beserta sedikit desisan tawanya yang penuh arti. Kemudian dirinya melanjutkan ceritanya dengan perlahan.

"Ahhhh... BBM-an. Gue ajak hang out di GI. Dia nyaman. Malam makin larut. Gue pancing balik ke apartemen. Dan dia gak mau pulang! Ahhhhh..."
"Diana hanya bisa merintih tersedu sambil menggumamkan nama mantannya yang bajingan itu!"
"Diana bilang kemarin itu pertama kalinya dalam hidupnya doing THAT thing with a girl..."

Sambil menyeka bulir air mata yang perlahan mengalir di matanya. Dirinya mengambil posisi lebih tegap lagi sebelum melanjutkan ceritanya. Ditariknya dalam-dalam udara yang sudah terkepung oleh asap rokok di sekitar dirinya. Dihembuskannya melalui mulut dengan hembusan yang tegas. Dirinya sudah mulai bisa menenangkan pilu hatinya.

"Trus.. Lo tau Satria kan? Yaa.. bocah kemaren sore sih.. Tapi dia ..."

Dirinya kemudian tercekat. Rasanya seperti ada duri yang tersangkut di tenggorokannya. Sulit sekali dirinya mengutarakan maksudnya. Sampai akhirnya dengan terbata-bata dirinya berujar

"Haha.. hahaaahaa.. hahahaa. haaaa! Gokil! My first time doing THAT thing with a man!"
"Ahhhh.... Whatsapp-an. Dia ngajak gue ketemu di BG. Kita larut dalam suasana...."

.... Ada 5..10 detik penuh keheningan yang terasa janggal sebelum dirinya melanjutkan cerita...

"Nope... Gak seperti yang lo bayangkan! Hahaha"
"Alkohol. Tatap mata. Ciuman. Toilet. Tubuhnya. Selesai"
"It was a mistake... Indeed... But, it was insanely exhilarating though!"

Dirinya menatapku dengan senyuman....
Kelamaan, tatapannya menjadi kosong...
Lama sekali dia menatapku..
Sampai akhirnya isak tangisnya memecahkan suasana malam ini.

"Gue gak tau harus mulai dari mana lagi."
"Gue gak tau harus berharap apa lagi ama hidup"
"Gue gak tau harus ngapain lagi melawan brengseknya diri gue"
"Gue gak tau harus minta apa lagi sama bokap, nyokap, abang, pacar... sama elo"

"Gue capek..."

Dirinya meraung sejenak...
Dan akhirnya dia tertidur..
Besok dirinya akan melupakan 5 menit ini.

...
..
.

Dirinya merupakan elegi
Di dalam kehidupan tentang tragedi
Tubuhnya berkeliaran tak tentu rimbanya
Jiwanya tersesat dalam palung ketakutannya

Kemudian,

Aku pergi meninggalkan dirinya... Dirinya yang dijebak nadir keputusasaan.
Aku pergi meninggalkan dirinya.. Dirinya yang diselimuti prahara keterpurukan.
Aku pergi meninggalkan dirinya. Dirinya yang dihempaskan gemerlap metropolitan.



Jakarta, 23 Mei 2014

p.s: cerita super pendek ini dipersembahkan untuk @bellamandajati yang mengusulkan ke gw di twitter tentang "kaum urban jakarta" sebagai ide cerita pendek. Ini sedikit interpretasi gw akan absurdnya "kaum urban jakarta" beserta semua konsekuensi ekstrim yang akan ditanggung di kala manusia terus menerus mencari kebahagiaan di luar ketimbang menggali dengan utuh ke dalam diri sendiri.

Tidak ada komentar: