Menapaktilasi tulisan saya yang dibuat sekitar 2 tahun yang lalu,
Sampai saat ini sayangnya saya hanya masih bisa sampai dalam tahap berpikir lebih keras dan belum bertindak banyak untuk mewujudkan inovasi sosial yang sedikit dibahas dalam tulisan di bawah ini.
Lebih tepatnya masih dalam fase membaca situasi bangsa & negara ini serta bingung akan masuk ke dalam sistem dimana saya dapat berpartisipasi dalam mewujudkan inovasi sosial ini?
Betapa pola pemikiran saya ketika masih berstatus mahasiswa dalam menulis tulisan ini benar-benar "lurus", dalam artian hanya memikirkan dinamika dari dalam sistem inovasi sosial saja. Dalam hal ini sistem inovasi sosial secara text book yang dibahas dalam tulisan di bawah ini.
Sedangkan ketika saya sudah menyelesaikan topik TA tentang organisasi dan masuk dalam kehidupan paska kuliah, barulah pemikiran saya menjadi lebih banyak bertambah.
Bertambah dalam hal apa?
1. Adanya aspek "lingkungan" dalam suatu sistem/organisasi. Situasi lingkungan di Indonesia saya golongkan ke dalam lingkungan dengan kompleksitas yang tinggi dan ketidakpastian lingkungan yang amat sangat tinggi (Lubis, Hari. Teori Organisasi. Bab 2: Lingkungan. Hal 57). Aspek lingkungan dipengaruhi antara lain oleh kebijakan pemerintah yang tidak cukup keras dalam mendukung inovasi sosial melawan koruptor. Dalam artikel ini disimpulkan bahwa hasil penelitian sejumlah mahasiswa Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, menyebutkan, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menguntungkan koruptor karena justru membuat rakyat Indonesia mensubsidi para koruptor. Aspek lingkungan yang tidak kalah rumit untuk diperhitungkan adalah aspek budaya untuk melakukan tindak korupsi. Katakanlah saya terlalu sembrono untuk mengatakan korupsi adalah suatu "budaya". Mengingat salah satu definisi dari kata "budaya" adalah 4 cak sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah; (kbbi), saya menjadi yakin bahwa tindak korupsi memang sudah menjadi budaya di Indonesia. Masih mau bukti? Berdasarkan Transparency International Indonesia (TII), Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2010 masih stagnan di skor 2,8 dan berada di posisi 110 dari 178 jumlah negara, tidak berubah dibandingkan pada tahun 2009. Dari angka tersebut menunjukkan Indonesia belum ada perubahan dan hanya berjalan di tempat. Adanya pelemahan secara sistematis terhadap institusi KPK, hal ini dikarenakan pemerintah gagal memperkuat lembaga pengadilan, kejaksaan, dan kepolisisan dalam pemberantasan korupsi. Yah, inilah bukti di atas kertas yang bisa saya ajukan mengenai "budaya" korupsi yang sudah menggerogoti negara ini.
2. Kehidupan paska kuliah mengajarkan saya akan makna menerima "realita". Realita yang membuat saya harus bekerja untuk mendapatkan uang, uang didapat untuk menyambung hidup & tabungan masa depan. Tapi, dari manakah asal uang yang saya dapatkan itu? Okelah, uang didapatkan dari perusahaan dan lain-lain. Lalu, apakah uang yang didapatkan dari perusahaan tersebut murni didapat dari hasil usaha yang tidak melibatkan proses korupsi dan hal-hal "kotor" lainnya? Entahlah. Terlalu kompleks jika hal ini dibahas berlarut-larut. Lebih baik disimplifikasikan ke arah "yang penting saya menerima rezeki". Sampai ke tahap penulisan kalimat terakhir di samping ini, berarti saya sampai dalam tahap "realistis".
Dengan pemikiran saya yang berkembang selama 2 tahun sejak saya menulis tulisan di bawah ini, lalu apakah strategi yang bisa saya terapkan untuk mewujudkan inovasi sosial ini bersama kawan seperjuangan nanti di kemudian hari? Entahlah. Saya tetap berharap buah pemikiran ini tidak menjadi utopia belaka. Saya masih naif sekarang. Saya masih memimpikan Indonesia yang mampu melawan korupsi sampai ke akar-akarnya. Entah apakah hal ini akan terwujud selama saya masih masih diberi nyawa, tapi selama saya masih berada di Indonesia saya akan berusaha minimal terus menginovasi diri saya pribadi dan syukur jika bisa meyakinkan orang-orang lain agar tidak terjun ke lembah korupsi yang tiada berujung....
23 April 2011
note: muak dengan tulisan ini yang mungkin kamu nilai terlalu idealis, gak realistis, dan hal skeptis lainnya? saya malah muak dengan pelaku tindak korupsi yang jelas-jelas menerima sesuatu yang bukan hak mereka, membuat sengsara banyak manusia di Indonesia, uang yang dikorupsi bisa menjadi sumber berkah bagi kaum yang benar-benar membutuhkan, dapat menjadi sumber dana bagi wirausahawan mengembangkan usaha, dan banyak lagi kepentingan umum yang efek sosialnya pasti akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa Indonesia ketimbang digunakan untuk memperkaya diri...
==============================================================
ketika kuliah Manajemen Inovasi, bpk Joko Siswanto memberikan intermezzo sebelum masuk ke pokok bahasan..
Intermezzo tsb membahas ttg inovasi sosial yang pernah dan paling berhasil di Indonesia "hanyalah" Keluarga Berencana (KB)
Kenapa hanya KB??
karena strategi penyampaian mengenai pentingnya merencanakan kelahiran anak, dinilai pak Joko sangat tepat.
Strategi penyampaian KB disampaikan ke masyarakat oleh Prof Haryono Suyono, kira-kira sbg brkt:
"zaman ini sudah tidak zaman lagi mempunyai banyak anak selaras dengan mempunyai banyak rezeki. masyarakat Indonesia ke depannya dihimbau mempunyai anak yang lebih sedikit, dengan kualitas anak tersebut yang dapat dimaksimalkan"
intinya Kualitas dan bukan kuantitas..
Kenapa KB dibilang inovasi sosial yang berhasil di Indonesia??
sebab kata pak Joko, tidak ada kitab suci agama-agama di Indonesia yang memperbolehkan kontrasepsi
(bener gak ni? tolong dikoreksi ya klo salah..)
tapi nyatanya, KB ini dinilai lumayan sukses..
sepenggal cerita diatas adalah tentang bagaimana menginovasi pemikiran bangsa ini..dari kata dasarnya, Inovasi berasal dari bahasa latin yaitu "Nova" yang berarti "Baru".
Inovasi selengkapnya dapat diartikan "memperbaharui"
Kemudian pikiran saya tertuju kepada satu permasalahan yang amat besar di bangsa ini (lebih besar daripada pengendalian jumlah anak tentunya), yaitu Korupsi.
Saya berpikir, Inovasi Sosial macam apa yang dibutuhkan untuk menghabisi perilaku Korupsi yang menghinggapi (mungkin) sebagian besar bangsa ini??
Saya menganggap bangsa Indonesia ini merupakan sebuah organisasi yang besar, dimana Indonesia ini mempunyai cita-cita yang mulia yang tertulis pada pembukaan UUD 1945.
Indonesia ini dibangun dari sekitar 250 juta individu dengan pengetahuan, motivasi hidup, kepribadian, emosi, persepsi, nilai yang berbeda..
Indonesia ini dibangun dengan dinamika kelompok yang beragam,,ada konflik, ada perjuangan yang diharapkan untuk terus membangun bangsa ini..
Indonesia ini juga dibangun dari Sistem yang mengatur arah berjalannya bangsa ini...
3 hal: Individu, Kelompok, Sistem... 3 hal ini jika diatur secara benar, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar (menurut saya pribadi lho,,)
Tapi, yang terjadi di bangsa ini menurut Pak Joko Siswanto, adalah bangsa ini belum mempunyai Platform/landasan berpikir tiap individu yang sama dalam kehidupan berkewarga-negaraan.. mungkin dapat dicontohkan oleh Pak Joko, seperti negara-negara di Eropa sana yang landasannya adalah JUJUR..
Saya berpikir, jika belum semua Individu-individu di Indonesia ini belum mempunyai landasan berpikir serta bertindak yang baik (katakanlah untuk selalu jujur) , bagaimana mungkin individu ini dapat membentuk kelompok yang kuat yang dapat memperjuangkan kepentingan bangsa ini ??
lalu jika kelompok-kelompok yang kuat serta memperjuangkan kepentingan bangsa ini diatas kepentingan kelompoknya tidak dapat terbentuk, bagaimana mungkin Sistem yang mampu menata bangsa ini, dapat terbentuk??
Perilaku korupsi timbul dari celah-celah yang menganga dari sistem yang mengatur bangsa ini.. ke depannya menuju era globalisasi, orang-orang oportunis yang berpikir untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya akan semakin banyak. syukur-syukur jika cara mengeruk keuntungannya dengan cara yang halal, akan tetapi dengan banyaknya celah (baik celah hukum,dan lainnya) saya ragu jika tingkat korupsi akan menurun..
Lalu, sebagai mahasiswa yang dituntu untuk berpikir kritis demi kemajuan bangsa ini, Inovasi Sosial macam apa yang bisa kita tawarkan??
Ingat, Inovasi Sosial bukan apa yang di-inovasi, tetapi SIAPA yang di-inovasi..
Siapa yang di-inovasi sudah jelas, yaitu segenap Warga Negara Republik Indonesia
Bagaimana dengan strateginya??
apakah dengan metode seperti Restorasi Meiji, dimana Jepang benar2 menutup negaranya dari Asing, menunggu generasi tua mati, kemudian didik generasi muda bagsa ini dengan landasan berpikir Jujur?
Atau cara berpikir ekstrem, seperti meng-genosida para koruptor??
Yang pasti, saya tergerak untuk memikirkan hal ini.. teman-teman juga khan??
sipp!!
11 Maret 2009
diambil dari notes facebook saya
Tampilkan postingan dengan label kilas balik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kilas balik. Tampilkan semua postingan
23 April 2011
25 Februari 2011
23, Sadomasokis, & Saya Ingin Merayakannya!
dalam bilangan integer, selepas angka 22 maka angka berikutnya adalah angka 23.Twenty-three is the ninth prime number, the smallest odd prime that is not a twin prime. Twenty-three is also the fifth factorial prime, the third Woodall prime. It is an Eisenstein prime with no imaginary part and real part of the form 3n − 1 -wikipedia.org-
dalam kehidupan, selepas suatu makhluk melewati usia ke-22 tahun masehi maka makhluk tersebut akan memasuki fase usia 23 tahun masehi.
contohnya saya ini, seorang anak manusia yang tiba-tiba saja sudah masuk ke usia 23 tahun.
Ya,
Saya termasuk manusia yang sangat beruntung karena masih diberikan berkat oleh Yang Kuasa untuk menikmati hari-hari yang sebenarnya masih sama saja seperti hari-hari kemarin, akan tetapi saat ini usia saya sudah secara "resmi" bertambah untuk mengarungi hari-hari yang nampak biasa tersebut.
Kenapa resmi? yah karena sebenarnya, tiap hari usia saya juga bertambah, bahkan tiap detik pun dihitung dalam pertambahan usia kita kan?
Resmi itu berlaku contohnya ketika saya nanti mengisi sebuah formulir dari suatu institusi baik pemerintahan ataupun asing yang di dalamnya tertera sebuah box/pertanyaan yang menanyakan berapa usia saya saat ini. Tentu mulai hari ini saya harus terbiasa menuliskan angka 23 jika menghadapi suatu situasi yang berkenaan dengan contoh seperti tadi.
Dalam mengarungi fase kehidupan dari angka 22 tahun menuju 23 tahun, saya boleh katakan ini termasuk fase hidup paling sadomasokis yang pernah saya tempuh dalam kehidupan saya.
Mungkin pengandaian sadomasokis terlalu berlebihan tapi jikalau Anda mengalami semua kejadian-kejadian hidup yang saya alami dalam 1 tahun ke belakang, mungkin Anda akan berkata "ini bukan sadomasokis, ini sih brutality!" atau malah Anda akan tetap berkata "berlebihan...".
Jelas Anda tidak akan mungkin mengalami kehidupan seperti yang saya alami.
Tentu saja tantangan hidup yang diterima setiap orang berbeda-beda, tidak mungkin juga untuk saling diperbandingkan karena memang setiap orang tentu ditempatkan ke dunia ini dengan tujuan yang berbeda-beda dari Yang Maha Kuasa.
Pembenaran versi orang bijak ada yang berkata:
Tidak mungkin Yang Maha Kuasa memberikan tantangan (atau cobaan) bagi kita yang lebih berat dari kemampuan kita.Saya cukup jarang bermonolog dengan Yang Maha Kuasa melalui doa, saya lebih sering membathin. Bukankah ini termasuk bentuk komunikasi juga dengan Yang Maha Kuasa? Saya yakin Yang Maha Kuasa pasti mendengar kata bathin saya dari semenjak saya orok sampai sekarang dan juga sampai dalam kekekalan suatu saat nanti. Mungkin Yang Maha Kuasa tersenyum (atau datar) ketika saya membathin "Ya Tuhan, ini apalagi sih?" atau "Ya Tuhan, dirinya cantik sekali pun juga payudaranya ranum" atau "Ya Tuhan, koq bisa BB saya dicolong di rumah ibadah stadion GBK?" atau "Ya Tuhan, vodka ini enaknya kebangetan" dan juga berbagai macam kata bathin lain-lainnya baik berupa harapan, keluhan, lenguhan, serapah, dll.
Saya kadang berpikir, apa iya orang bijak itu sungguh bijak? Parameter disebut bijak itu sebenarnya seperti apa? Kenapa bisa seseorang disebut bijak jikalau dia memberi tahu kepada saya bahwa cobaan yang saya alami itu tidak lebih dari tantangan yang sesuai dengan kemampuan saya?? Toh, saya memang berpikiran tantangan dan cobaan yang saya hadapi ini amat sangat pantas disebut sadomasokis! Tentu makna sadomasokis ini jangan dimaknai secara harfiah yang berarti "give or receive heavy pain and humiliation (in form of sex play)", akan tetapi lebih mengarah kepada:
"Sadomasochistic... The Hardest Things I've Done and I've Ever Experienced!"Yap,
di usia 22 tahun lalu:
saya akhirnya lulus dari kampus,
saya patah hati ampe sekian kali,
Pembimbing Tugas Akhir saya meninggal dunia saat saya masih membutuhkan nasihat-nasihat dari beliau dalam menghadapi kehidupan paska-kampus,
saya mesti menyesuaikan diri dengan keadaan di rumah yang sudah saya tinggal 5 tahun serta tidak paham dengan tingkat pemikiran saya sekarang, (dan mungkin orang-orang di rumah juga ga ngerti kenapa bisa terjadi gap pemikiran yang begitu jauh dengan saya -__-a, apakah ini efek doktrinasi yang saya dapatkan selama OSKM ITB, PPAB MTI, dan lain-lainnya selama saya beraktivitas di kampus? jelas iya banget deh :D )
Dan bagi saya yang paling menantang adalah:
saya berhadapan dengan rimba dunia dalam berbagai bentuk yang amat sangat tidak terbayangkan kegilaannya dan kekacauaannya serta dalam menjalaninya menguras emosi baik dalam bentuk amarah maupun haru-biru (cuihh :D) yang sama sekali tidak terkurikulum layaknya kehidupan silam yang tertata oleh sistem kurikulum yang sudah saya jalani sejak playgroup hingga bangku kuliah.
Tentu akan jadi sebuah memoir curahan hati yang mengguncang nalar dan memukau iman, jikalau saya jabarkan satu persatu apa saja detil dari pengalaman yang katanya saya sih sadomasokis itu. Maksud tulisan ini juga bukan membeberkan pengalaman pribadi saya yang tentu saja tidak sedramatis pengalaman Alanda Kariza yang mesti berjibaku memperjuangkan "keadilan" terhadap ibunya yang terjebak dalam kubangan bernama Century. Sungguh maksud tulisan ini tidak lebih merupakan perayaan saya pribadi terhadap segala yang terjadi pada saya selama 1 tahun ke belakang.
Layaknya seorang yang beranjak sembuh dari kanker yang menggerogotinya, seperti itulah perasaan diri saya saat mencapai titik ini sekarang. Titik dimana usia saya resmi di angka 23 tahun. Benar adanya perasaan sadomasokis itu tentu membuat diri saya merasa sakit, tapi rasa sakit ini telah membuat saya menjadi lebih "manusia". Terus yang kemaren saya bukan manusia dong? Tentu saja saya tetaplah manusia, hanya saja ada fase dimana saya bertindak benar-benar tanpa rasio. Terlalu mengikuti keinginan primordial belaka yang dilandasi ego untuk bertindak semaunya tanpa memperhatikan lingkungan di sekitar. Bagi saya, itu fase dimana jiwa saya sebagai manusia telah menghilang. Tentu ini merupakan ironi ketika saya masih menjalankan kehidupan, tetapi saya tidak menjalaninya secara utuh. Langkah saya berat.
Ya, saya perih ketika saya sebagai manusia hanya menjalani kehidupannya untuk sekedar bertahan hidup belaka.
Tanpa jiwa.
Hanya raga yang bekerjasama dengan otak dengan segala keterbatasannya, mencoba untuk sekedar mempertahankan fungsi-fungsinya agar tetap bekerja.
Mungkin supaya jiwa itu bisa kembali.Tentu saja itu kemungkinan yang paling bisa saya terima, toh karena saya membenarkan bahwa saya merasa telah menjadi "manusia" lagi sekarang.
Saya yang mengenali diri saya sendiri, anehkah jika saya Tidak mengenal diri saya sendiri?
Menurut saya aneh, karena ini adalah sebuah fase hidup yang tidak semua orang pernah mengalaminya. Apakah Anda pernah mengalami fase dimana Anda tidak lagi bisa percaya dengan apa yang Anda lakukan?
Apakah Anda pernah merasa kebingungan bahwa Anda sedang berada dalam titik nadir, lalu Anda sadar bahwa Anda tidak lagi tahu apa keadaan yang terjadi di sekitar Anda?
Lalu Anda sadar, bahwa rentetan kejadian yang Anda alami itu merupakan manifestasi dari segala penolakan Anda menerima bahwa terkadang hidup ini emang kayak tai!Dan Anda yang sudah terlanjur bau tai, tidak lagi mengenal bau diri Anda sendiri yang dulu Anda kenali.
Dan terlepas dari segala macam pembenaran yang tentu saja saya tuangkan di tulisan ini, saya ingin merayakan kenyataannya bahwa saya sudah mengalami banyak sekali pahit dan juga sedikit manis dari kehidupan selama setahun ke belakang ini.
Saya ingin merayakan bahwa di usia yang (masih) 23 tahun ini saya sudah bisa menemukan dan memperjuangkan untuk meraih tujuan hidup saya. Apa rencana saya ke depan. Apa rencana cadangan saya jika rencana utama batal. Apa rencana cadangan dari rencana cadangan saya. Apa tai-tai ke depannya yang akan saya alami. Apa antidote saya menghadapi tai-tai itu.
Ya!
Saya Ingin Merayakannya!
Lebih dari itu semua, saya ingin merayakan bahwa di usia 23 tahun ini berarti saya mesti siap untuk menerima tantangan dan cobaan lainnya yang tentu akan mengalami eskalasi dari tingkat yang sudah pernah alami sebelumnya. Saya Ingin Merayakannya!
Saya Ingin Merayakannya! Dengan cara yang sederhana. Dengan sedikit tegukan vodka. Dengan sedikit kegelisahan yang saya tuangkan dalam tulisan saya. Dengan perjalanan-perjalanan yang akan saya arungi. Dengan terus membuka mata dan hati saya. Dengan terus berekspektasi.
Bukankah berekspektasi, apalagi berekspektasi tinggi, itu tidak baik? Setidaknya Anda harus berani berekspektasi, karena ketika Anda mendapatkan ekspektasi tersebut, Anda tidak akan kaget dibuatnya. Tetapi jika Anda gagal, Anda akan tahu betapa sakitnya kegagalan tersebut, dan Anda akan merasakan betapa sadomasokisnya hal tersebut! Dan Anda mungkin akan berada di level yang sama dengan yang pernah saya alami!
Dan lebih baik Anda jatuh ke level sadomasokis di usia 23 tahun untuk kemudian bisa segera bangkit, ketimbang anda menderita sadomasokis parah di usia 30 tahun. Maka, izinkan saya untuk menutup tulisan ini dengan kalimat ini:
Saya Ingin Merayakan! Bahwa saya masih bisa menyelesaikan tulisan ini. Bahwa saya pernah mengalami perasaan tak tentu rimba yang berujung pada nikmatnya mengalami sadomasokis itu sendiri. dan tentu saja Bahwa saya hari ini berusia 23 Tahun. \m/
"And that's about the time she walked away from me
Nobody loves you when your 23
And you still act like you're in Freshman year
What the hell is wrong with me?" (Blink 182, What's My Age Again?)
Langganan:
Postingan (Atom)