Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

15 Desember 2014

[Movie Review] Interpretasi tentang Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh (2014)

Setiap menonton dan mengalami film (experience the movie), saya selalu menetapkan suatu standard di dalam kalbu saya untuk menilai bermaknanya suatu film terhadap diri ini. Standard tersebut dapat disimpulkan menjadi suatu pertanyaan sebagai berikut:

"Apakah film yang saya tonton ini memberikan dampak psikologis terhadap perasaan saya pasca credit title muncul di layar?"

Apabila muncul suatu perasaan bangga, sedih, terluka, tertawa, dll yang sifatnya menyentuh ruang kalbu saya dan membuat saya terngiang-ngiang akan film tersebut, itulah tandanya saya tercerahkan karena "experience the movie".

Kemudian yang membuat saya kaget sendiri, saya tidak pernah menyangka saya akan dibuat terkesan dan menulis review dari film Supernova garapan Rizal Mantovani. Ada 3 poin yang saya coba tuangkan:
  1. Kenapa saya menuangkan interpretasi Supernova melalui ulasan ini? Karena saya mendapat dampak psikologis paska menonton Supernova
  2. Kenapa mendapat dampak psikologis? Karena tidak menyangka dengan tema film yang filosofis dan narasi Supernova yang nyaman untuk dicerna
  3. Kenapa bisa sampai tidak menyangka? Yah, karena ini film Indonesia (Sejujurnya saya selalu merasa inferior duluan dengan karya produksi Indonesia) dan apalagi ini diproduseri oleh Soraya Intercine Film yang notabene bagi saya jauh dari niat mengangkat tema yang filosofis untuk dijadikan suatu dasar cerita dalam produksi layar lebar
Lalu, dampak psikologis apa yang saya rasakan?

"Mencari" adalah hakikat dari kehidupan manusia.
Sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih "mencari".
Saya coba memahami dengan skala pemikiran yang saya percayai bahwa proses "mencari" adalah suatu penggalian ke dalam diri tiada henti.
Bisa jadi akan menjadi suatu hal yang nihil jikalau proses pencarian ini terus dipikirkan tanpa mensyukuri lalu menerima dengan sikap mengalir mengenai apa saja yang saya alami tiap saatnya.
Terkait penggalian diri, maknanya dalam bagi diri saya.

Lalu, saya tidak pernah menyangka ternyata Supernova membawa kisah yang maknanya dalam untuk dikupas. Sangat jarang saya temui film apalagi film Indonesia yang mempunyai lapisan berlapis-lapis baik dalam narasi maupun ruh yang tersemat dalam cerita Supernova itu sendiri. Terakhir saya menonton film Indonesia yang membawa dampak seperti ini ke saya adalah film klasik "Apa Jang Kau Tjari, Palupi?" (1969) arahan sutradara Asrul Sani serta film dokumenter "The Look of Silence (SENYAP)" (2014) karya Joshua Oppenheimer.

Memangnya seperti apa cerita film Supernova ini?
Cerita film ini diambil dari novel karangan Dewi Lestari dengan judul yang sama.
Kabarnya novel ini merupakan best-seller di jamannya. Karena saya bukanlah seorang yang rajin membaca novel, sudah tentu saya hanya pernah mendengar judul novelnya saja tanpa tahu apa isinya.
Jadi saya benar-benar menikmati narasi yang disodorkan oleh pembuat film tanpa ada ekspektasi apapun.
Secara singkat cerita mengalir dari Dimas dan Reuben yang bertemu di Washington karena suatu kebetulan, kemudian mereka berjanji akan membuat suatu tulisan mahakarya 10 tahun selepas pertemuan tersebut. Akhirnya mereka benar-benar membuat tulisan itu. 3 karakter utama dengan peran sebagai Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang dipersatukan oleh suatu Avatar di internet yaitu Supernova. Sinopsis lengkapnya tentu bisa googling, karena saya tidak akan membahas terlalu lama di sini.

Film ini bagi saya adalah tentang penggalian makna hidup yang direngkuh melalui pahitnya dampak suatu hubungan. Bahwasanya Ksatria berharap mendapat setiitk kebahagiaan yang sudah lama diidamkan dalam hidupnya, tetapi kenyataan hanya menawarkan hal pahit:

Ksatria tidak bisa mendapatkan Putri, kemudian mempertanyakan apa artinya dia mesti hidup dalam kehidupan yang penuh dengan duka bagi dirinya. Dari pertanyaan- pertanyaan yang diajukan melalui korespondensi di dunia maya itulah akhirnya Ksatria bertemu dengan Supernova. 

Supernova adalah cerminan diri Ksatria.

Saya coba resapi dengan perspektif ini:


Manusia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, kemudian mempertanyakan apa artinya dia mesti hidup dalam kehidupan yang penuh dengan duka bagi dirinya. Dari pertanyaan- pertanyaan yang diajukan melalui korespondensi dalam bentuk lantunan doa itulah akhirnya Manusia "bertemu" dengan Dia. 

Manusia adalah cerminan diri Dia.

========================================================

Sangat jarang saya bisa berpikir sampai sejauh ini hanya karena film Indonesia.
Butuh cerita dan skenario yang kuat dan juga butuh karakter yang dapat kita relasikan serta dipahami agar mencapai suatu titik simpati mendalam.
Itulah yang bisa dicapai oleh film Supernova ke dalam diri saya.

Saya menikmati narasi dari film ini.
Saya tidak akan membahas segala kekurangan yang ada, saya akan fokus terhadap nilai spesial yang ditawarkan oleh film Supernova.

Kisah yang dibangun Dimas dan Reuben yang berkembang dalam diri Ferre, Rana, Arwin, dan juga Diva.
Dengan dialog yang nampaknya dicomot dari novelnya oleh penulis skenario Donny Dirghantara, menghasilkan suatu dialog dengan bahasa Indonesia yang amat sangat baku dan diksi yang jarang saya temui. Contohnya adalah Bifurkasi; kata yang jarang saya dengar dalam pergaulan sehari-hari.
Tetapi saya tidak terganggu dengan hal ini, malahan saya serasa mengalami 2 jam yang membuat saya mengagumi betapa kayanya ragam berbahasa Indonesia.

Visual yang memanjakan mata. Pemilihan lokasi shooting yang asyik. Saya menikmati Pesudo Jakarta yang dipresentasikan oleh Rizal Mantovani. Rumah Ferre di pinggir tebing yang langsung berbataskan dengan  laut yang indah. Ferre dan Rana memadu kasih di atas pesiar dengan latar laut tersebut. Adegan pernikahan Rana yang digarap dengan detail yang baik. Ferrari milik Ferre. Diva dengan keanggunannya melenggok di atas catwalk dan di kamar hotel...

Adegan animasi yang disisipkan juga sangat baik untuk ukuran film Indonesia. Film ini nilai produksinya mahal. Kabarnya dana produksi film ini mencapai Rp 20M, nilai yang fantastis mengingat untuk balik modal saja butuh 1 juta penonton untuk mencapainya.

Herjunot sebagai Ferre mampu memamerkan dimensi Ferre yang menutupi kerapuhannya dengan kompleks. Bukan hal mudah memainkan karakter yang penuh luka dalam hidupnya kemudian menunjukkan sisi kuatnya dalam kehidupan sehari-hari untuk kemudian meluruh ketika bertemu dan menjalin hubungan dengan sang Putri: Rana.

Raline Shah sebagai Rana juga mampu menunjukkan kegelisahannya dalam menatap realita hidupnya yang serba terjepit oleh keputusan-keputusannya di masa lalu. Getir dalam kehidupan pernikahannya yang tidak sesuai ekspektasi dan menutupinya dengan pemahaman "Semua baik-baik saja bersama Arwin. Suami yang sangat mencintai diriku... tapi tidak dengan cara yang tepat.... tapi setidaknya semua harus baik-baik saja"

Fedy Nuril sebagai Arwin.. Tatap matanya yang memendam amarah bercampur dengan pedihnya dikhianati... Ditunjukkannya dengan baik dengan gestur dan caranya mengucapkan dialog demi dialog apalagi ketika bagian Arwin memeluk Rana di saat momen kejujuran.

Paula Verhoven sebagai Diva.. Titik lemah di film ini..Kaku layaknya otot yang tidak pernah dilatih keluwesannya... Dia lebih cocok sebagai model daripada sebagai aktris... Andaikan dialog final di kala Ferre dan Supernova bertemu di kamar server komputer disampaikan dengan Diva dengan nuansa yang dinamis, maka saya yakin adegan itu harusnya bisa jadi klimaks yang mampu membawa penonton dengan kadar emosi yang tepat untuk mencerna secara implisit tentang apa itu Supernova... Sayang sekali, Diva membawakannya dengan datar,,,,

Peramu dari segala produksi film ini adalah Ram Soraya dan juga anaknya: Sunil Soraya dalam naungan rumah produksi Soraya Intercine Film yang mulai rutin memproduksi film yang diangkat dari novel best seller mulai dari "5cm" (2012) dan "Tenggelamnya Kapal van Der Wijck" (2013). Menurut saya di tiap produksinya, Soraya Film selalu memperbaiki performanya paling kentara dari segi teknis. Teringatlah saya akan van der wijck yang gradasi warnanya berubah ubah dari awal sampai akhir film...

Bagaimanapun, saya salut dengan keberanian Soraya Film untuk mengangkat novel-novel yang punya "nilai".
Supernova adalah anak dari Dewi Lestari yang spesial.
Butuh keberanian berupa nyali, uang yang sangat banyak (tentu tidak ada jaminan balik modal di industri perfilman Indonesia yang punya risiko investasi yang tinggi), dan orang-orang produksi yang punya otak kreatif yang sanggup berpikir di luar kotak untuk memfilmkan Supernova secara estetis dan juga punya nilai komersial.

Menurut saya Supernova mencapai titik tersebut serta mampu membuat saya terus terngiang 2 hari setelah menontonnya di layar lebar XXI.

Rasanya tiket yang saya beli serta tepukan tangan saya di akhir pemutaran film ini kurang cukup untuk mengapresiasi betapa spesialnya film ini.

Untuk itulah saya ingin mengapresiasi melalui tulisan yang sederhana ini :)

Segeralah tonton Supernova kala masih ada di layar bioskop nasional, film ini adalah yang orang Indonesia butuhkan. Di saat masih banyak yang protes dan sinis terhadap film Indonesia dan koar-koar minta dibikinin film yang bagus (dan juga membuat berpikir), Soraya Film menjawabnya dengan Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh.

Sebuah karya yang saya tunggu untuk diproduksi oleh sineas Indonesia.
Tidak ragu saya mengatakan ini adalah film Indonesia terbaik yang saya tonton sepanjang tahun 2014.



04 Maret 2011

Film Barat yang Besar Pengaruhnya Untuk Saya (3)

(lanjutan dari bagian 1) & (lanjutan dari bagian 2)

10. 12 Angry Men (1957) director: Sidney Lumet


Apa Pengaruhnya Untuk Saya?

  •  Pertama kali mengetahui adanya film ini karena film ini ada di 10 besar IMDb Top 250 Movies di medio tahun 2009. Tampaknya di kemudian hari pada tahun 2009 juga, saya mendapatkan file film ini lagi-lagi dari kawan saya: Alfie Zairul. haha. Saya menonton film ini berdua dengan kawan saya Ikra di kosan saya. Tentu tidak terjadi hal yang "diinginkan" diantara kami berdua ketika itu. Haha.
  • Tidak ada ide sama sekali dalam pikiran saya ketika memulai menonton film. Saya tidak tahu film ini akan menceritakan tentang apa, tapi saya sangat penasaran mengapa film yang usianya sekarang sudah lebih dari 1/2 abad ini bisa tetap bertahan di urutan atas IMDb Top 250 Movies?
  • Setelah menyelesaikan menonton film ini, saya bisa mengatakan dengan tegas: FILM INI SANGAT BRILIAN! Mayoritas scene HANYA diambil di dalam 1 ruangan saja (ruangan juri)! Film ini menawarkan dialog yang amat sangat Jenius dan benar-benar mencapai klimaks ketika akhirnya 12 juri karakter di film ini mampu seia sekata untuk mengambil keputusan mengenai hidup/mati seorang terdakwa yang masih bau kencur.
  • Pengaruh paling besar: Membuat film yang brilian dengan biaya seminimal mungkin itu sangatlah dapat diwujudkan, asalkan dibarengi dengan otak yang luar biasa kreatif untuk merancang screenplay serta drama yang believeable layaknya film ini.
  • Catatan Khusus: Ketika mendekati klimaks di film ini, tiba-tiba ada goncangan yang besar di kamar kosan saya di Cisitu, Bandung akibat gempa bumi yang berpusat di Tasikmalaya. Getaran akibat gempa tersebut sangat kencang, (diketahui kemudian gempa berkuatan 7.3 SR) bahkan kamar kos saya yang terletak di lantai 2 sampai bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan dengan kecepatan tinggi. Tapi saya dan Ikra malah tidak bergeming, tetap duduk manis melanjutkan menonton di laptop. Ketika kawan yang tinggal di samping kamar saya, Redayusa, lari terbirit-birit mengahampiri kamar saya dan menghardik kami "Eh ini gempa, kalian koq ga turun?", barulah saya dan Ikra kemudian saling berpandangan (kemudian saling menatap mata, lalu berciuman mesra) lalu segera mengambil langkah 1000 untuk turun ke bawah mencari tempat yang aman. Kami sepakat ketika itu jikalau waktu itu nyawa kami tercabut, kami tidak akan menyesal karena di akhir hayat kami, kami telah menonton sebuah film yang sangat luar biasa. Sungguh pemikiran naif yang membuat ketika saya berpikir sekarang jika saja saya bisa balik ke masa tersebut, mungkin saya sudah memberikan jurus DDT layaknya pegulat WWE kepada diri saya sendiri ketika itu & juga Ikra tentunya sebagai tanda betapa dungu dan pendek sekali pikiran kami ketika itu.


11. Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) director: Michel Gondry
 Apa Pengarunya Untuk Saya?
  • Pertama kali menyadari ada film ini ketika tahun 2004, saya tahu film ini diputar di bioskop-bioskop di Jakarta. Tentu saja ketika itu saya aware akan film ini karena keberadaan Jim Carrey. Sudah semenjak era Ace Ventura: Pet Detective saya kagum ama aktor tersebut sehingga beliau menjadi alasan saya tertarik untuk menonton film ini, hal yang akhirnya terwujud di awal tahun 2005 ketika film ini sudah dapat disewa di Video Ezy.
  • Pertama kali selesai menonton film ini, perasaan saya datar-datar saja. Apa yang spesial dari film ini bagi saya yang ketika tahun 2005 itu "baru" berusia 17 tahun? Oh hanya kisah patah hati belaka, kata saya ketika itu. Di kemudian hari ketika saya beranjak makin dewasa *ehem* ketika saya sudah menonton film ini untuk yang ke-2, ke-3,... ke-sekian kali, saya baru menyadari betapa perihnya drama yang terjadi di film ini. Getir. Pilu. Galau. Mungkin juga beberapa kata-kata lagi yang dapat mewakilkan perasaan saya terhadap relasi Jim Carrey & Kate Winslet di kisah cinta yang tragis pun juga romantis ini.
  • Pesan moral untuk saya pribadi: Tidak ada yang namanya Lacuna Inc. di dalam kehidupan nyata. Saya tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan dengan menghapus ingatan saya walaupun besar sekali keinginan saya untuk menghapus banyak sekali hal. Apakah klise? Tentu saja. Tetapi perjuangan untuk menghadapi problema kehidupan itulah seni kehidupan yang saya sendiri masih terlalu muda untuk bisa menarik kesimpulan dari hal-hal negatif yang pernah saya alami.

12. Mr. Nobody (2009) director: Jaco Van Dormael




Apa Pengaruhnya Untuk Saya?

  • Pertama kali tahu ada film ini di tahun 2009 di IMDb.com, karena saya adalah pengagum berat Jared Leto. Di lain waktu saya akan menerbitkan tulisan di blog ini, kenapa saya bisa kagum dengan beliau. Nah, tentang ikhwal menonton film ini sendiri, di sekitar bulan April-Mei 2010 saya membaca sebuah tulisan di kompasiana dimana penulisnya membuat sebuah puisi yang terinspirasi dari kisah film ini. Kemudian saya tanyakan kepada penulisnya, dimanakah dia mendapatkan film ini? Ternyata sudah bisa didapatkan di penjual DVD-DVD bajakan di tempat terdekat... Dan akhirnya saya mendapatkan film ini Poins Square, Lebak Bulus.
  • Jared Leto bermain dengan brilian di film ini (memuji dengan subyektif banget, haha)
  • Esensi dari kisah Mr. Nobody ini bagi saya  yang terdalam adalah pernyataan: "You have to make the right choice. As long as you don't choose, everything remains possible." dan layaknya pesan dari film The Butterfly Effect; WHAT IF?
  • Tipikal film yang membuat saya menjadi berhati-hati (baca: kebanyakan mikir) buat ngambil keputusan dan kemungkinan konsekuensi-konsekuensi yang didapat setelah saya mengambil keputusan tersebut. Walau pada akhirnya saya tetap saja tidak terlalu banyak berpikir dalam mengambil keputusan dan tidak siap menghadapi suatu konsekuensi yang terjadi :hammer:

13. Revolutionary Road (2008) director: Sam Mendes




Apa Pengaruhnya Untuk Saya?
  • Sebenarnya ini salah satu film yang pada awalnya saya tidak terlalu bersemangat untuk menontonnya. Okelah saya tahu film ini membuat Kate Winslet mendapatkan Golden Globe untuk Best Performance by an Actress in a Motion Picture - Drama. Ada Leo Di Caprio juga di film ini. Tapi apakah saya perlu meluangkan waktu untuk menontonnya? Akhirnya awal tahun 2010 saya berkesempatan juga untuk menonton film ini yang ternyata ada di Hard Disk External saya (mungkin, file film ini juga didapatkan dari Alfie? hehe). Niat menonton ketika itu hanya untuk mengisi waktu luang saja.
  • Drama tentang kehidupan pasangan suami istri yang terdistraksi karena perubahan sikap dari April (Kate Winslet) & Frank (Leo Di Caprio) seiring dengan bertambahnya usia perkawinan mereka. Rasa cinta dan kenyamanan yang nampak dalam hubungan mereka ketika baru pertama kali berkenalan hingga menikah, akhirnya bertolak belakang menjadi perasaan gundah serta kebingungan dalam menghadapi keadaan menggoyahkan perasaan mereka dalam menjalani bahtera rumah tangga bertahun-tahun kemudian. Film yang pesannya sangat dalam bagi pasangan yang dimabuk asmara.
  • Suatu saat nanti ketika saya memutuskan untuk menikah, saya harus menonton film ini lagi bersama pasangan saya. Banyak pesan yang bisa diambil di film ini dari sudut pandang pria & wanita dalam menghadapai problema rumah tangga yang pasti akan terjadi nanti.


14. Star Wars HEXALOGY


Apa Pengaruhnya Untuk Saya?
  • Star Wars rasanya sudah saya ketahui semenjak saya SD. Seingat saya dalam rangka 30 tahun Star Wars, tahun 1977 film Episode 4, 5, & 6 ditayangkan lagi versi terbarunya di bioskop-bioskop Indonesia. Nama-nama seperti Luke Skywalker, Leia Organa, Darth Vader, Han Solo, R2-D2 juga mulai akrab di telingan saya ketika itu. Di salah satu cerita komik Doraemon yang saya baca ketika SD, juga ada kisah yang plotnya mengambil cerita episode 4. Jadi perkenalan saya dengan kultur Star Wars sebenarnya sudah dari SD, akan tetapi pertama kali menonton semua filmnya itu ketika SMA kelas 3 karena pengaruh sangat besar dari sobat saya: Deva Satria
  • Pengaruh paling besar: Filosofi hidup Jedi. Kuotasi-kuotasi seperti "May The Force Be With You", "I Am Your Father", dll. Nampaknya budaya Star Wars sudah menyatu sama pola pikir saya. Film ini secara tidak saya sadari maupun beberapa hal saya sadari, berhasil mempengaruhi konsep diri saya dalam memandang kehidupan.
  • Film besar dengan pengaruh yang besar bagi diri saya. Walaupun sebenarnya pandangan saya terhadap 6 film Star Wars itu sendiri justru biasa-biasa saja, karena saya adalah generasi kedua yang menonton Star Wars di era millenium. Tapi yang membuat suatu film itu hebat adalah ketika film itu terus dibicarakan walau sudah puluhan tahun diproduksi, serta film tersebut mampu menjadi sebuah produk budaya. Itulah Star Wars: Terus (dan akan terus diperbincangkan) & resmi menjadi budaya dunia :)

===================================================
Akhirnya, 14 film yang sangat besar pengaruhnya sudah saya jabarkan dalam 3 bagian tulisan yang terpisah. Mungkin jika Anda menyukai ataupun juga terpengaruh dari salah satu bahkan semua film yang telah saya jabarkan, Anda dapat memberi komentar mengenai film-film mana saja yang juga pernah mempengaruhi Anda.

Atau Anda ingin memberikan rekomendasi film-film untuk saya saksikan dengan melihat pilihan film-film saya? Silakan berikan tanggapan Anda di komentar ;)

Terima Kasih sudah menyempatkan membaca tulisan saya ini. Sampai berjumpa di tulisan saya berikutnya. Ciao!

01 Maret 2011

Film Barat yang Besar Pengaruhnya Untuk Saya (2)

(lanjutan dari bagian 1)

4. Shawshank Redemption (1994) director: Frank Darabont
Apa Pengaruh Untuk Saya?
  • Pertama kali mengenal film ini sekitar akhir tahun 2006, saat saya mulai akrab mengakses imdb.com. Ketika itu film ini menempati urutan ke 2 dari IMDbTop 250 Movies dibawah film The Godfather. Lalu sekitar tahun 2008, film ini entah mengapa bisa saya dapatkan file-nya. Saya hanya mengira ini drama kegetiran tentang seseorang yang dipenjara karena tuduhan palsu saja dan akan berakhir dengan buruk. Tapi ternyata, film ini menawarkan twist ending yang jenius!
  • Seperti perkataan tokoh Andy Dufresne di film ini "Hope Can Set You Free", seperti inilah pemikiran saya ketika menghadapi situasi kehidupan yang kalut. Dengan berpengharapan, saya dapat membebaskan diri saya dan berani untuk keluar dari zona nyaman dalam mengambil keputusan.

5. (500) Days of Summer (2009) director: Marc Webb

 Apa Pengaruh Untuk Saya?
  • Pertama kali mengetahui film ini dari tayangan VIP ACCESS di kanal televisi berbayar STAR MOVIES di akhir tahun 2009. Saya langsung tertarik dengan sinopsis ceritanya dan juga komentar dari Zooey Deschanel selaku aktris utama di film ini. Dia berkata bahwa film ini "sangat subyektif menceritakan pandangan pria di kala sedang putus dari kekasihnya". Akhirnya di awal tahun 2010 saya mendapatkan file film ini. 
  • Saya jatuh cinta dengan gaya penceritraan yang mengisahkan film ini secara non-linear serta memperlihatkan mood tokoh utama yang naik turun dengan apik, saya jatuh cinta dengan karakter Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt) & Summer Finn (Zooey Deschanel), saya jatuh cinta dengan Original Soundtrack (OST) di film ini, tapi saya TIDAK jatuh cinta dengan cara Summer memperlakukan Tom.
  • Pengaruh paling besar: film ini dapat menjadi semacam antidote bagi saya pribadi dalam menyikapi kisah cinta saya yang kandas. Summer sudah lewat, mudah-mudahan akan ada Autumn, dll :)
  • Loneliness is Underrated....
6. Donnie Darko (2001) director: Richard Kelly

 Apa Pengaruh Untuk Saya?
  • Pertama kali mengetahui film ini lagi-lagi karena Alfie Zairul. Sepertinya pada tahun 2006 sebelum saya akhirnya pindah ke kosan yang sama dengan Alfie, saya pernah main-main ke kamarnya. Ketika itu di tumpukan DVD koleksi Alfie, saya melihat ada film ini dan Alfie bilang ini film yang bagus dan ternyata rating di imdb.com cukup tinggi untuk film ini dan termasuk dalam IMDb Top 250 Movies. Akhirnya saya sendiri baru berkesempatan menonton pada tahun 2009.
  • Adegan konklusi cerita yang tragis dibarengi dengan lagu "Mad World" yang dinyanyikan oleh Gary Jules. Merangkum semua perasaan gundah gulana dalam diri saya yang sedari lahir sudah melankolis ini :'). Saya bisa merasakan perasaan Donnie yang terasing dari lingkungannya dan mencoba berontak melawan keadaan di sekitarnya.
  • Membuat saya percaya akan adanya dunia alternatif yang mirip dengan dunia kita. Mungkin dimensinya saja yang berbeda? Entahlah. Saya percaya :D
7. Magnolia (1999) director: Paul Thomas Anderson
 Apa Pengaruh Untuk Saya?
  • Film ini saya temukan ketika sedang belanja DVD bajakan di salah satu toko di Bandung. Sejujurnya saya lupa kapan persisnya saya membeli DVD ini, nampaknya sekitar bulan Agustus-Oktober 2009. Kenapa saya beli DVD ini? Tidak lebih karena rating film ini yang tinggi di imdb.com, saya tidak mempedulikan bahwa ada Tom Cruise di film ini ataupun Paul Thomas Anderson selaku sutradaranya.
  • Nyatanya setelah selesai menonton film ini hati saya menjadi pilu. Film ini bagi saya sempurna menggambarkan tiap karakter yang kesepian dalam taraf yang berbeda levelnya, kemudian bagaimana setiap karakter melewati konfliknya dibangun dengan amat getir. Film yang berhasil membuat saya bertanya pada diri sendiri ketika merasa kosong: "Saya ini melarikan diri dari kesepian, kebingungan menghadapi kesepian, sebenarnya tidak kesepian tetapi merasa kesepian, atau tegar menghadapi kesepian?"
  • "I really do have love to give! I just don't know where to put it...."
8. Requiem For A Dream (2000) director: Darren Aronofsky


 Apa Pengaruh Untuk Saya?
  • Saya menonton film ini pertama kali sekitar akhir tahun 2009/awal tahun 2010 bersama Alfie (yak, selera film kami nampaknya banyak yang sama dan saling mempengaruhi). Film ini sendiri saya pertama kali menyadarinya ketika saya membeli majalah Cinemags edisi khusus yang membahas 100 Most Influential Movies, dimana film ini termasuk di antara daftar tersebut.
  • SAYA TIDAK AKAN PERNAH MENGGUNAKAN NARKOBA. AMIN
  • Film ini dengan tragis amat sangat perih menggambarkan 4 karakter utama yang terjebak dalam penggunaan obat-obatan. Gaya penyutradaraan yang mengandalkan shot-shot cepat juga membuat irama dari film ini terjaga dengan baik dan mampu menghantarkan klimaks dengan luar biasa indah sekaligus pilu.
  • Music "Lux Aetherna" yang mengiringi beberapa adegan dalam film ini terutama dalam adegan klimaks, menjadi musik yang wajib saya dengarkan jika mood saya sedang kacau. Mendengarkan musik ini bagi saya mampu menetralkan emosi negatif saya menjadi sedikit rileks di saat kapanpun. Benar-benar musik yang menghantui jiwa saya...
  • Mengerti bahwa Jared Leto adalah aktor yang hebat :)
  • Kagum terhadap Ellen Burstyn. Benar-benar aktris yang amat sangat luar biasa :D
9. The Dark Knight (2008) director: Chris Nolan

  Apa Pengaruh Untuk Saya?
  • Sebelum film ini dirilis ke seluruh dunia pada tanggal 18 July 2008, saya telah jatuh cinta terhadap film-film karya Chris Nolan yaitu Memento, Batman Begins, & The Prestige (di kemudian hari saya menonton Following dan saya sangat berkesan akan film ini, lalu nonton Insomnia yang merupakan remake jadi tidak terlalu istimewa bagi saya, serta yang paling terbaru adalah Inception yang luar biasa keren). Jadi, alasan saya untuk menonton film ini sebenarnya adalah karena Chris Nolan, bukan karena saya penggemar Batman. Saya menonton film ini di bioskop FX Platinum, Jakarta ketika hari pertama film ini diputar di Indonesia. Setelah keluar dari ruang teater bioskop, saya sampai bingung harus berkata apa karena film ini langsung saya nilai merupakan sebuah karya legendaris.
  • Belum pernah saya lihat sebelumnya sebuah film superhero dapat diangkat sampai ke level film The Dark Knight ini (dan memang belum pernah ada mencoba pendekatan seperti yang Nolan lakukan) yang membuat penonton sampai berpikir "kegilaan macam apalagi yang akan dilakukan tokoh antagonis The Joker?" dan apa tindakan dari Batman? Dari segi plot cerita yang tingkatannya masif, tata sinematografi yang sebagian menggunakan teknologi IMAX sehingga rasio gambar makin membesar, sampai ke faktor acting (Heath Ledger? dia adalah Legenda) semua mencapai level dimana saya berpikir: "Inikah bukan sekedar film superhero. Ini adalah cerita tentang seseorang yang karena prinsip pribadinya yang idealis, rela mengorbankan jati dirinya untuk kepentingan yang jauh lebih besar. Melindungi Gotham dengan mengorbankan sosok dirinya adalah esensi sesungguhnya dari "jagoan" di dalam kehidupan nyata"
  • Pengaruh paling besar adalah ketika saya menonton film superhero setelah rilisnya film ini, saya berharap film tersebut dapat mencapai tingkatan seperti yang dicapai dalam film ini. Rupanya ttu amat sangat berat.
  • Saya jadi kagum akan karakter Bruce Wayne dan juga tokoh Batman, serta dunia Batman di grafik novel.
  • Saya menganggap Chris Nolan adalah Guru Besar dalam perfilman.
  • Saya menarik kesimpulan, semua pejabat negeri ini jika ingin memperjuangkan idealisme untuk memperbaiki bangsa dengan cara yang benar, maka pejabat tersebut harus siap mengalami hal seperti yang dialami Batman pada konklusi cerita.
  • Banyak kan pengaruhnya? Saya memang kagum akan film ini. :)
(berlanjut ke bagian 3)

27 Agustus 2010

Review: À la folie... pas du tout (2002)


Apakah perasaan cinta yang mendalam dari seorang wanita untuk seorang pria yang sudah mempunyai istri adalah suatu hal yang pantas dipertahankan?

Dengan tetap mempertahankan perasaan cinta di dalam hatinya, wanita ini menjadi lebih semangat dalam menjalani hidup karena pria ini mampu membuat rasa cinta wanita ini mekar sehingga menjadi tujuan hidup yang ingin diraih wanita ini bersama pria tersebut.

Akan tetapi bagaimanakah dengan perasaan pria ini kepada wanita tersebut? Kemudian, bagaimanakah kata hati pria ini sebenarnya kepada istrinya? 
À la folie... pas du tout

Film ini mengisahkan tentang kehidupan cinta Angelique, seorang wanita muda berparas manis dan juga merupakan mahasiswi yang sukses mendapatkan beasiswa di bidang impiannya yaitu seni lukis. Angelique dikisahkan mencintai seorang dokter yang mempunyai nama Loïc. Perasaan cinta Angelique yang membuncah, membuat Angelique sering mengirimkan hadiah sebagai tanda cintanya kepada Loïc. Loïc yang telah mempunyai istri bernama Rachel yang sedang hamil, kemudian diselimuti kegalauan di dalam hatinya. Sementara itu, seorang dokter muda bernama David secara terang-terangan telah menyatakan perasaanya kepada Angelique. David mencoba merebut hati Angelique yang berbunga-bunga terhadap sosok Loïc.

Angelique yang sudah kadung sangat mencintai Loïc, kemudian melakukan beberapa tindakan nekat untuk memisahkan Loïc dari Rachel dan tentu saja supaya Loïc mau menerima cintanya setulus hati. Sayangnya, rasa cinta Angelique kepada Loïc akhirnya bertepuk sebelah tangan. Loïc tetap memilih untuk bersama Rachel. Angelique yang putus asa akhirnya memutuskan untuk melakukan percobaan bunuh diri...

"We all dream of a great love affair"  -Angelique-

Pada akhirnya apakah Loïc akan paham alasan mengapa Angelique begitu mencintai dirinya, sehingga Angelique memutuskan untuk mencoba bunuh diri? Setelah setengah bagian awal dari film ini bercerita menurut sudut pandang Angelique, kemudian setengah bagian berikutnya dari film ini bercerita dari sudut pandang Loïc. Dari perspektif Loïc, keyakinan penonton akan sosok Angelique yang sangat mencintai Loïc akan dibuat ragu seiring terkuaknya beberapa fakta yang membuat penonton berpikir: Apakah Angelique mencintai Loïc dengan tulus atau malah perasaan dari hati Angelique kepada Loïc itu bukanlah perasaan cinta?

Sosok Angelique yang terlihat polos namun sebenarnya misterius diperankan dengan apik oleh Audrey Tautou. Daya pikat Tautou setelah berperan di film Amélie pada tahun 2001 terpancar di film ini dan tidak diragukan lagi merupakan elemen terpenting di film ini. Layaknya film produksi Prancis yang lain, terdapat beberapa momen indah yang ditangkap oleh kamera terutama pada bagian awal dari film yang mencoba menyampaikan suasana hati Angelique yang berbunga-bunga secara visual. Jalinan cerita yang diberikan pada film ini mencapai klimaksnya dengan baik, lalu ditutup oleh ending yang membuat penonton akan memikirkan dalam hati: "Apa sih yang sebenarnya ada di dalam pikiran Angelique?"

"Though my love is insane
my reason calms the pain in my heart
it tells me to be patient and keep hoping..."
-an erotomaniac confined for 50 years-


À la folie... pas du tout a film by Laetitia Colombani
cast:
Audrey Tautou ... Angelique
Samuel Le Bihan ... Loïc
Isabell Carré ... Rachel
Clément Sibony ... David

Rumah Produksi:
Cofimage 12

25 Agustus 2010

Review: Following (1998)



Apa yang akan dilakukan seseorang penulis ketika merasa kesepian dan bosan di London? Mengikuti seseorang lainnya secara acak kemanapun orang tersebut pergi.

Ini adalah ide awal dari cerita "Following", film panjang pertama karya sutradara Chris Nolan yang diproduksi dengan format hitam putih. Film ini dibuka dengan dialog antara tokoh utama yang bernama Bill dengan seorang Polisi. Chris Nolan sedari awal karir nampak telah menyukai gagasan bahwa adegan pembuka film berkaitan erat dengan akhir film itu sendiri, setidaknya inilah nuansa yang nampak dalam Following dan juga pada beberapa film Nolan berikutnya seperti Memento, The Prestige, dan Inception.

Dialog di pembuka film memaparkan argumentasi Bill tentang motivasi dirinya untuk mengikuti seseorang secara acak. Bill juga menjelaskan terdapat beberapa aturan yang dia buat sendiri dalam mengikuti seseorang. Ketika aturan tersebut dilanggar oleh Bill, maka dimulailah konflik berkembang dalam film ini dengan alur cerita non-linier ini.

Dikisahkan Bill mengikuti Cobb (Ya, COBB, nama karakter yang sama dengan nama karakter Leo Di Caprio di film Inception) sampai ke dalam café. Cobb yang menyadari bahwa Bill sedang memperhatikan dari kejauhan kemudian segera mendekati Bill dan dimulailah pembicaraan antara mereka berdua sehingga Bill mengetahui bahwa Cobb adalah seorang pencuri (COBB seorang Pencuri, nampak seperti di film Inception?). Bill kemudian mengikuti bagaimana tindakan-tindakan yang dilakukan Cobb dalam memasuki flat seseorang. Salah satu flat yang dimasuki adalah milik seorang wanita Blonde. Seiring cerita berlanjut, Bill kemudian mengikuti wanita Blonde yang apartemennya sempat dimasuki olehnya sampai akhirnya berkenalan dengan Blonde.

Ternyata Bill tertarik kepada Blonde sehingga pada akhirnya Bill bersedia melakukan suatu hal yang diminta Blonde dan juga kedekatan Bill dengan Cobb malah membuat Bill tidak menyadari bahwa dirinya sedang dalam sebuah intrik licik yang membuat Bill akhirnya mencari tahu apa kebenaran di balik hal-hal yang menimpa dirinya selama ini.

"When I started to follow people, specific people, when I selected a person to follow, that's when the trouble started." -Bill-

Film berdurasi 70 menit ini pada akhirnya memberi pesan kepada penonton tentang ide-ide apa saja yang dibawa oleh Chris Nolan kepada sebagian besar film-film yang akan diproduksi Nolan setelah film ini. Walaupun Following adalah film pertama dari Chris Nolan, saya justru menonton film ini yang paling akhir ketimbang film-film Nolan lainnya. Gagasan akan anti-hero, manipulasi pikiran seseorang, heist movie, personal demon seseorang yang dibenturkan dengan personal demon tokoh lainnya, dan beberapa gagasan lainnya merupakan genre yang pada akhirnya selalu dipakai Nolan sampai saat ini di proyek lainnya. Seperti film Nolan yang lain, penonton akan dibuat tertarik dari setiap adegan ke adegan lainnya sehingga suasana misteri dan thrill dapat terbangun dengan sangat baik dari awal hingga menuju klimaksnya. Saya salut dengan proses editing dari film ini.

Hebatnya film ini diproduksi hampir tidak mengeluarkan dana sama sekali! Jikalau ada dana yang dikeluarkan, maka itu dipergunakan untuk keperluan promosi dari film ini sendiri. Jadi membuat film dengan skenario dan ide cerita yang kokoh seperti ini dengan dana seminimal mungkin, menurut saya adalah sebuah prestasi tersendiri. Bahkan alasan dana yang minimal juga merupakan penyebab film ini dibuat dengan format hitam dan putih, yaitu untuk kompromi dengan kebutuhan alat-alat pencahayaan yang kadang dibutuhkan untuk pengambilan gambar film berwarna.

Pada akhirnya penonton akan dibuat tersenyum miris (setidaknya ini ekspresi saya pribadi) ketika mengetahui apa yang terjadi yang sebenarnya pada Bill pada akhir cerita film ini. Dan dialog antara Bill dan Polisi pada akhir film, akan membuat kita semua berpikir apakah kita sebenarnya mengetahui dengan baik dan benar semua hal yang terjadi di sekeliling kita?

FOLLOWING a film by Christopher Nolan

Cast:
Jeremy Theobald ... Bill
Alex Haw ... Cobb
Lucy Russell ... The Blonde
John Nolan ... The Policeman

Rumah Produksi:

New Wave Films

08 Mei 2009

Terjatuh Perlahan (dan bangkitlah secepatnya)

malam ini di StarMovies, tidak sengaja saya menonton film musikal yang sarat makna dengan teknik penyutradaraan long-shot dan dinamis. Judulnya adalah Once

Dari sekian banyak lagu-lagu keren di film ini, ada 1 lagu berjudul "falling slowly" yang liriknya begitu kuat. Seperti berikut:

I don't know you
But I want you
All the more for that
Words fall through me
And always fool me
And I can't react
And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you have a choice
You've made it now

Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black
You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you had a choice
You've made it now

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you had a choice
You've made it now
Falling slowly sing your melody
I'll sing along
(Glen Hansard/Marketa Irglova)

tagline film ini adalah :" How often do you find the right person? "
seberapa sering?
apakah sebenarnya sudah, tapi kita tidak menyadarinya?

Ketika kita terlambat untuk menyadarinya, semua telah terlambat..
Dan akhirnya kita terjatuh perlahan..
mulai bertindak bodoh dan melarikan diri kepada kepuasan semu..

Tuhan Yang Maha Kasih nyatanya berkehendak lain..
Dan bangkitlah secepatnya..
Jangan menolak menerima kehadiran-Nya..

menyesali masa lalu kita lakukan,, maka selamanya engkau akan ditenggelamkan oleh masa lalu itu

Maaf dari relung qalbu yang terdalam.
Itu bisa engkau lihat di mata-ku.
Bukan kecewa,
hanya ingin menyesali kuasa jahat yang telah menguasaiku dahulu...


Saya hanya pasrah..
Di saat pintu sudah tertutup, hanya usaha keras yang dapat membuat saya melangkah lebih maju lagi.
Tidak akan terjadi...
Tidak akan..
Tidak.