09 Juni 2011

30 Seconds To Mars. The Kill.


What if I wanted to break
Laugh it all off in your face
What would you do?
What if I fell to the floor
Couldn't take this anymore
What would you do do do?

Come break me down
Bury me, bury me
I am finished with you!

What if I wanted to fight
Beg for the rest of my life
What would you do (do do)
You say you wanted more
What are you waiting for?
I'm not running from you
...

Come break me down
Bury me, bury me
I am finished with you

Look in my eyes
You're killing me, killing me
All I wanted was you
!!!

I tried to be someone else...
But nothing seemed to change
I know now this is who I really am inside
Finally found myself
Fighting for a chance
I know now this is who I really am

Ohhh haaaa
Ohhh hoooo
Ohhh haaaa

Come break me down
Bury me, bury me
I am finished with you you you

Look in my eyes
You're killing me, killing me
All I wanted was you

Come break me down
Break me down
Break me down

(You say you wanted more)
What if I wanted to break
(What are you waiting for)
(Bury me, bury me)
(I'm not running from you)
What if I, What if I
What if I, What if I
(Bury me, bury me)
==============================================

Setelah mendengarkan lagu "ATTACK" yang demikian emosional maknanya bagi gw *ehem*, tentu gw semakin tertarik mendengarkan lagu-lagu Mars yang lain. Jika 1 lagu Attack saja sudah membuat gw suka dengan Mars, lalu bagaimana dengan lagu-lagu lainnya? Apakah Mars ini hanya band tipikal one-hit wonder? Ternyata tidak dan single "THE KILL" ini telah membuat gw jatuh cinta pada Mars.

Peristiwa menarik tentang lagu ini di akhir tahun 2009: 1 botol besar Heineken, chatting secara acak dengan beberapa sahabat, dan lagu ini terus saya ulang-ulang selama kurang lebih 5 jam. Hasilnya, lagu THE KILL telah merasuki jiwa saya. Setelah mendengar Attack, gw hanyalah suka terhadap lagunya saja dan tidak lebih dari itu. Tetapi setelah mendengar THE KILL, gw menjadi jatuh cinta dengan Mars. Gw jatuh cinta dengan cara Mars menuliskan lirik dan kemudian menyematkan permainan gitar di dalamnya yang mampu membangkitkan mood untuk melepaskan kemarahan gw di dalam hati. Dengan tambahan pengaruh dari Heineken, maka sulit bagi gw melupakan hari yang luar biasa ketika The Kill berhasil menyentuh relung hati gw yang hancur kala itu.

Awalnya gw menginterpretasikan lirik lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang berbicara kepada kepada kekasihnya tentang relasi mereka. Tentang suatu relasi yang sudah mencapai titik jenuh dimana seseorang ini merasa sudah letih dengan hubungan dia dan kekasihnya, akan tetapi seseorang ini sudah berusaha sangat-sangat keras untuk menjadi sosok yang diinginkan kekasihnya walau situasi di antara mereka ternyata tidak berubah. Well, setelah memahami lebih dalam tentang lirik lagu ini, membaca interpretasi dari orang-orang lain, serta melihat konsep dari video klip lagu ini, The Kill lebih dari sekedar lagu yang berbicara tentang relasi antar sepasang kekasih. 
Makna lagu ini adalah tentang pemenangan terhadap diri sendiri.
Tentang "menjadi diri sendiri".
Lagu ini memberikan pesan yang dalam mengenai sejauh apapun kamu ingin berusaha menjadi sesosok yang berbeda, pada akhirnya sesosok itu hanyalah manifestasi kamu dari sosok yang sebenarnya tidak kamu inginkan tetapi orang lain inginkan. Mars berteriak kepada kamu, bahwa inilah diri kita yang sesungguhnya.
Esensi dari lirik lagu ini pada akhirnya semakin jelas.
Menerima diri ini sendiri bagi sebagian orang adalah hal yang sulit, apalagi ketika kita telah mengalami hal-hal yang sulit diterima oleh akal kita sehingga membuat kita berusaha bertindak "menjadi sosok yang lain". Tetapi lagu ini menawarkan "cara" bagi diri ini untuk ikhlas menerima segalanya. Ihklas untuk meneriakkan kegelisahan kita untuk membunuh perasaan marah yang tidak tentu arah.

The Kill pada akhirnya telah menjadi kontemplasi bagi diri saya pribadi.
Telah membuat saya empati terhadap sisi emosional dari Jared Leto yang telah mengarang lagu ini.
Terutama, telah membuat saya mempunyai cara baru untuk self-healing ketika saya merasa telah menjadi sosok yang berbeda dan hal ini memancing kemarahan dari lubuk hati saya yang tidak bisa menerima hal ini.
Please Enjoy, THE KILL.

Trivia:
Konsep video klip lagu THE KILL, terinspirasi dari film THE SHINING (1980) karya Stanley Kubrick. Bagi kamu yang dapat memahami perasaan tokoh yang diperankan Jack Nicholson di film tersebut, kamu mungkin saja bisa menangkap korelasi dari perasaan tokoh tersebut dengan lirik lagu ini sendiri. :)

07 Juni 2011

30 Seconds To Mars. Attack.


I won't suffer, be broken
Get tired or wasted
Surrender to nothing
Or give up what I started

And stop this
From end to beginning
A new day is coming
And I am finally FREE!!!

Run away, run away
I'll ATTACK
Run away, run away
Go change yourself
Run away, run away
I'll attack, I'll attack, I'll attack

I would've kept you forever
But we had to sever
It ended for both of us
Faster than a . . .
Kill off this thinking
It's starting to sink in
I'm losing control now
Without you I can finally SEE!!!

Run away, run away
I'll attack
Run away, run away
Go change yourself
Run away, run away
I'll attack, I'll attack, I'll attack

Your PROMISES
They look like LIES!

Your honesty
Like a back that hides a knife
I promise you
I promise you...
I am finally FREE!!!

Run away, run away
I'll attack
Run away, run away
Go change yourself
Run away, run away
I'll attack, I'll attack, I'll attack 
=============================================
Lagu ini serta video klip-nya tersembunyi di antara banyak file-file hiburan yang dihibahkan oleh Tendy Saktyaji ke komputer gw. Lagu ini merupakan tembang yang mengantarkan saya berkenalan dengan 30 Seconds To Mars. Kekuatan lagu ini terdapat pada liriknya. Sangat lugas. Interpretasi untuk lagu ini sendiri cukup personal bagi gw. 

Ketika kamu marah, ketika kamu sudah mengucapkan janji dengan seseorang, ketika kamu sudah melakukan segala hal sesuai dengan apa yang kamu harapkan pada diri kamu sendiri dan seseorang, akan tetapi pada saat yang sama seseorang tersebut justru melanggar serta merubah janji yang sudah diucapkan bersama...
Maka lagu ini adalah sebuah teriakan lantang tentang pembebasan serta serangan balik secara emosional kepada seseorang tersebut.

Ya, saya menulis ini dengan emosional...
Lagu ini gw putar terus ketika saya ingin meluapkan rasa kesal gw. Bisa dibilang, lagu ini merupakan salah satu menu terapi wajib ketika gw merasa lingkungan dan mood gw sudah terlalu represif menekan persendian hati gw yang makin mengeras dalam menghadapi pikiran-pikiran yang ngebunuh gw.

Video klip dari lagu ini juga sangat berani. Di sebuah bangunan yang ditelantarkan kemudian di-set sedemikian rupa sehingga Jared, Tomo, Shannon, Matt (bassist Mars ketika itu) dapat menumpahkan mood mereka terhadap lagu ini, serta interpretasi dari sutradara video klip dengan memasukkan unsur wanita yang secara seronok dengan tatapan yang serasa ingin memakan kamu serta berusaha untuk menseduksi Jared. Terdapat pula pesan yang ditampilkan secara cepat melalui SFX di beberapa bagian dari video klip yang diproduksi dengan teknik lighting yang super keren ini!

ATTACK, merupakan sebuah pengantar yang secara emosional menjadi sebuah tembang yang mampu mengingatkan, memarahi, serta menyemangati gw sebelum pada akhirnya gw mengenal Mars lebih jauh lagi.
Lagu yang menyentuh emosional saya secara mendalam. Sebuah lagu yang sempurna untuk didengar & dinyanyikan ketika hati kamu penuh dengan rasa kemarahan.

ATTACK
Written by Jared Leto
Published by Apocraphex Music (ASCAP)
Produced by Josh Abraham and 30 Seconds to Mars
Engineered by Ryan Williams

30 Seconds To Mars. Prologue.

Ini bakal jadi bagian awal tulisan gw tentang 30 Seconds To Mars.
Entah akan sampai berapa kali gw akan menulis tentang mereka.
Sampai mereka terus memberikan inspirasi ke gw,
gw akan selalu mencoba menulis tentang mereka di blog ini.
Pada tulisan ini, saya akan menuliskan pengalaman awal saya berkenalan dengan musik mereka.
enjoy :-)

=================================================

bertebaran dimana-mana, nampak tidak jelas, dan tidak pernah gw perhatikan.
file-file 30 Seconds To Mars pada awalnya hanya tersimpan di hard-disk komputer desktop gw di sekitar tahun 2006 akhir - 2007 awal. Hanya ada 2 file yang tersimpan ketika itu. File .mp3 dari lagu "Attack" & File video klip "Attack" unduhan dari YouTube. Gw ingat ketika bulan puasa tahun 2006, gw baru saja mendapat komputer baru untuk keperluan kuliah & entertainment!

Atas nama hiburan, maka saya undang kawan saya Tendy Saktyaji untuk bertandang ke kosan ketika saya baru saja membawa komputer dari rumah. Tendy ketika itu langsung melimpahkan banyak sekali file hiburan, baik dari hiburan untuk kenikmatan pribadi (cukup jelas) dan juga hiburan berupa film dan musik (dari yang jelas ampe yang kagak jelas). Dan terseliplah lagu & video klip 30 Seconds To Mars berjudul "ATTACK". And the rest is history...
Berlebihan mode: on.. hahaha

Awalnya saya berpikir 30 Seconds To Mars ini paling hanyalah band emo lainnya yang meramaikan belantika musik dunia. Tidak lebih dari itu.
Sampai pada akhirnya saya mendengar sebagian besar lagu mereka dari 3 album yang sudah mereka rilis ("30 Seconds To Mars" 2002, "A Beautiful Lie" 2005, & "This Is War" 2009), meresapi makna dari lirik yang mereka nyanyikan, bergumul dengan perjalanan hidup yang membuat saya berpikir kelam, kemudian merefleksikan balik ini semua ke dalam lagu-lagu yang dinyanyikan 30 Seconds To Mars. Sebagian besar lirik yang ditulis oleh mereka menjadi sangat masuk akal bagi saya. 30 Seconds To Mars mengajarkan saya untuk jujur dalam mengutarakan perasaan hati saya. Musik mereka diterima dengan baik oleh kuping saya ini. Dimulai dari lagu "Attack" - "The Kill" - "From Yesterday" - "A Beautiful Lie" - "The Story" (semua lagu ini terdapat di album kedua 30 Seconds To Mars "A Beautiful Lie") saya berkenalan secara mendalam dengan band ini.

Berbicara 30 Seconds To Mars, tidak bisa dipungkiri maka akan bersinonim dengan Jared Leto. Dia adalah nyawa dari Mars. Tanpa bermaksud meniadakan peran dari penggebuk drum Shannon Leto (notabene kakak dari Jared) & Tomo Milicevic sebagai gitaris, visi seorang Jared Leto-lah yang telah membawa Mars menjadi sebuah band cult yang memiliki fan-base yang rela mendevosikan waktu mereka untuk mempopulerkan Mars kemana saja, dimana saja, dengan cara yang luar biasa kreatif. Bagi saya, Jared Leto berhasil menjadi seorang aktor dengan karir lumayan cerah, menjadi musisi dengan karir yang brilliant, dan dia berhasil menjadi manusia yang jujur serta bekerja ama keras untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Ya, Leto bekerja sangat keras untuk menunjukkan kepada dunia kalau dia bukanlah seorang aktor dengan modal tampang kemudian 'aji mumpung' menjadi penyanyi. Jared Leto lebih dari itu. Dia sudah menjadi sumber inspirasi tersendiri.

Well, akan bakal lebih panjang lebar lagi klo mau komentarin 30 Seconds To Mars secara global. Pada tulisan-tulisan berikutnya, gw akan mengutarakan pendapat-pendapat gw dari tiap lagu 30 Seconds To Mars yang gw sering dengarkan. Kalau kamu masih mau membaca keterangan lebih lengkap lagi tentang 30 Seconds To Mars, silakan buka laman berikut ini:


http://thirtysecondstomars.thisisthehive.net/blog/ --> laman resmi 30 Seconds To Mars
http://en.wikipedia.org/wiki/30_Seconds_to_Mars --> informasi umum dari wikipedia

Terakhir dari gw: Akhirnya gw bisa mempunyai keterikatan ama suatu band musik sehingga gw bisa berkata "musik mereka itu gw banget!". Ya, semua ini karena 30 Seconds To Mars.

17 Mei 2011

kilas balik: obrolan inspirasional dengan alm. SBHL

Tulisan ini saya ambil dari http://mbahdiddo.tumblr.com
Berhubung sudah lama saya tidak menulis dan esok hari saya sudah kembali ke kesibukan saya belakangan ini, saya tidak yakin akan bisa menulis lagi dalam jangka waktu dekat.
Jadi untuk mengisi blog ini, saya mengambil tulisan yang pernah saya tulis di tumblr sekitar 3 bulan lalu.
Kenapa tulisan ini saya sertakan disini?
Secara simpel setelah saya mengikuti tumblr, saya berpendapat tumblr itu lebih cocok untuk diisi dengan konten-konten berupa gambar (baik dalam format jpeg atau gif) ketimbang diisi dengan tulisan panjang.

Saya berpikir alangkah baiknya jika tulisan ini bisa dibaca di blog ini ketimbang mendekam di tumblr.
Akhir kata, saya masih menjalani misteri kurikulum kehidupan yang telah Pak Hari Lubis sampaikan kepada saya 1 tahun lalu.
Lalu, bagaimana kurikulum kehidupan yang saya jalani sampai sejauh ini? Rumit, tapi tetap menarik dari perspektif saya pribadi.
Bagaimana dengan kamu sendiri? Sudah menemukan jawaban paling ultimate dari kurikulum kehidupan ini? :)

=======================================================

Sekitar 1 tahun lalu ketika saya sedang bimbingan tugas akhir dengan Beliau.
  • Didit (D) : Bapak, bagaimana dengan nilai IPK saya ini ya? Sebentar lagi sudah mau lulus, tapi IPK saya masih begini-begini saja...
  • (alm) Dr. Ir. S.B. Hari Lubis (H): oh, kenapa kamu khawatir?
  • D : Ya khawatir Pak. Kalau melihat IPK kawan-kawan saya yang lain, rasanya saya minder banget.
  • H : Dit, saya kasih tahu. Banyak anak yang mendapat IPK bagus itu artinya mereka lulus dengan baik dari kurikulum TI ITB periode ini. Lulus dari kurikulum kehidupan itu belum tentu. Maka, apa yang kamu khawatirkan hanya dari sekedar nilai yang kamu dapat dari ITB ?
Saya langsung terdiam ketika mendengar Beliau berkata hal ini.
Kalimat tersebut keluar dari seorang luar biasa yang seumur hidupnya memakan asam-garam kehidupan yang Beliau pandang dari perspektif cara kerja organisasi yang ideal. Sesuai dengan nilai-nilai yang Beliau anut hasil kuliah ilmu Organisasi di Grenoble, Prancis.
Ketika saya sudah lulus kuliah dan kemudian menjalani sedikit fase kehidupan paska lulus, saya mulai memaknai lebih dalam akan pesan Beliau tersebut.

Sayang sekali, Beliau saat ini sudah tiada. Meninggalkan banyak makna untuk saya. Saya tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbincang panjang lebar dengan Beliau seperti dahulu.
Ingin sekali rasanya saya bercerita kepada beliau akan sedikit pengalaman yang saya alami setelah lulus, tentang sedikit kurikulum kehidupan yang saya sudah jalani selama ini.
Tetapi, inilah kehidupan. Sang Pencipta mungkin menetapkan bahwa Bapak Hari Lubis sudah waktunya lulus dari kurikulum kehidupan sehingga Beliau dipanggil untuk kembali intim dengan Sang Pencipta di alam sana.
Tentu saja, saya yang masih menjalani sebagian kecil dari kurikulum kehidupan ini menjadi gelisah. Suatu saat nanti ketika saya dipanggil menghadap Sang Pencipta, itu artinya saya telah lulus kurikulum kehidupan dengan nilai yang baik? Atau malah saya dipanggil karena nilai saya selama menjalani kurikulum kehidupan ini setali tiga uang dengan nilai IPK Sarjana saya, bahkan mungkin lebih rendah? Oh, tentu suatu saat nanti, kita pasti akan mengetahuinya.
Demikian. Semoga perkataan dari Bapak Hari Lubis ini juga bisa menambah perspektif bagi kamu-kamu yang sedang menjalani kurikulum kehidupan yang penuh dengan "kuis", "tugas besar", "presentasi", dan juga "ujian" yang tiada hentinya mendera kita semua.

*tulisan ini saya persembahkan untuk Bapak Hari Lubis. Karena Beliau, saya bisa lulus ITB dengan tidak sekedar dengan bekal nilai A untuk tugas akhir. Tapi dengan banyak perspektif-perspektif bijak untuk memandang kehidupan ini yang tidak pernah saya dapatkan selama masa perkuliahan saya di ITB. : )

28 April 2011

Review Konser Maroon 5 Mengguncang Jakarta!!!!

(Yak, dengan sadar saya menggunakan judul tulisan yang sedikit hiperbolis) :p

Mumpung ingatan tentang konser ini masih segar berputar-putar di kepala (saat tulisan ini dipublikasikan, konser ini baru berakhir sekitar 4 jam), saya mencoba memberika review sederhana untuk konser Maroon 5 yang digelar di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 27 April 2011. Sebelum menulis lebih lanjut, perlu diketahui bahwa saya bukanlah die hard fans dari Maroon 5. Saya tidak mengikuti perkembangan musik mereka dengan antusias, akan tetapi saya cukup familiar dengan beberapa hits yang mereka keluarkan terutama dari album Songs About Jane & album It Won't Be Soon Before Long. Jadi, review ini murni saya tulis dari sudut pandang seorang penggemar musik yang penasaran dengan stage performance dari band asal Los Angeles, Amerika Serikat ini.

Phuce yang ngebet banget ama mas Adam






Saya datang ke konser bersama kawan saya Phuce & Panji. Yak, apa definisi laler? Tentu definisi laler adalah saya! T______T
Sementara Phuce & Panji asyik masyuk pacaran selama konser, saya sendiri cukup puas menikmati liukan tubuh mas Adam dan kawan-kawannya dari kejauhan. Ah sudahlah, poin paling pentingnya adalah saya sangat terhibur dengan penampilan dari kawan-kawan Maroon 5 ini. Penampilan mereka sekitar 90 menit sangat memuaskan rasa penasaran saya akan kualitas penampilan langsung dari mereka. Oke, berikut ini beberapa aspek yang saya review dari konser ini:

  • Sistem masuk pemegang tiket ke dalam gedung Istora
Saya sebelumnya belum pernah datang ke konser yang diselenggarakan oleh promotor Java Musikindo. Tentu saya sudah mengetahui bahwa Java Musikindo sudah bisa dikatakan sangat berpengalaman dalam mengadakan konser dengan artis kelas internasional seperti Maroon 5 ini. Jadilah aspek keamanan sangat ketat seperti tiket yang dicetak diatas kertas hologram yang dapat diperiksa dengan bantuan lampu UV, barikade pemeriksaan tiket yang sangat ketat terbagi dalam 3 ring, pengaturan pintu masuk (floor plan), serta hal-hal lain yang mendukung sistem masuknya pengunjung ke istora saya memberi penilaian yang baik untuk Java Musikindo. Aman!

ini tiket kalau diterawang pake sinar UV, bisa kelihatan hologramnya. canggih dah!

  •  Faktor teknis kenyamanan penonton dalam menikmati konser
Saya mendapat tiket kategori tribune. Entah mengapa saya merasa sangat beruntung mendapatkan spot menonton dari sebelah kiri panggung (blok E). Bagi saya, sudut untuk menonton sangat pas dan saya merasa nyaman untuk menikmati jalannya konser. Perhatian saya justru tertuju kepada pemilik tiket kategori tribune yang kebagian blok B, C, D. Ketimbang dengan blok E tempat saya menonton dan blok A (tribun yang terletak tepat di seberang blok E), maka saya mengkategorikan pemegang tiket tribune yang mendapat tempat duduk di blok B, C, & D tergolong pemegang tiket yang kurang beruntung karena mereka membayar harga yang sama seperti saya di blok E, tetapi posisi duduk mereka relatif jauh.

Untuk penonton yang mendapat tiket kategori festival, tentu menjadi sebuah privelege tersendiri karena penonton yang cepat masuk ke dalam Istora pasti akan mendapat kesempata berdiri lebih dekat ke panggung. Justru pemegang tiket festival yang datang terlambat sehingga hanya bisa berdiri dengan jarak sekitar 50 meter dari panggung, sangatlah sial nasibnya.

Dari aspek suara yang dihasilkan, pengetahuan saya terbatas mengenai hal ini. Saya akan coba review hal ini dengan pendekatan common sense saya. Saya termasuk pihak yang merasa kurang puas. Entah karena akustik bangunan Istora yang memang tidak didesain untuk kegiatan konser, atau malah ada performa yang tidak maksimal dari sound vokal? Saya merasakan suara yang dihasilkan terkadang tidaklah menyatu. Yah, in my ngehek opinion suara yang dihasilkan "agak" ga harmonis. Akan tetapi, sungguh ini hanya perasaan saya. Jikalau ada masalah di sound, saya mengambil kesimpulan ini hanyalah hal minor saja dari konser ini.

Suasana menjelang konser






  •  Stage Performance Maroon 5
Maroon 5 memulai konser mereka sekitar pukul 8 malam lewat 10 menit. Konser dibagi ke dalam 2 babak. Dibuka dengan lagu Misery sampai ke lagu This Love kemudian Maroon 5 keluar panggung sejenak untuk isitrahat hingga akhirnya konser benar-benar berakhir pada lagu Sunday Morning. Secara garis besar, penampilan Adam Levine sebagai ujung tombak band Maroon 5 benar-benar memukau. Entertainer sejati. Mampu memperlihatkan gesture yang membuat para wanita tidak bisa menahan rasa decak kagum.

Stage Interact Adam kepada para penonton cukup membuat para penonton terkesima. Basa basi dalam bahasa Indonesia kepada penonton meliputi : "Saya cinta kamu" & "Apa kabar" cukup untuk membuat kami para penonton ini tersenyum. Maka kritikan saya berikutnya adalah betapa minimnya panggung yang disediakan promotor, sehingga gerakan dari Adam ini terbatas dari situ-ke-situ saja.

Lagu yang dinyanyikan serta menjadi klimaks bagi saya adalah ketika The Sun dimainkan dan di tengah-tengah lagu kemudian Maroon 5 mengcover lagu Billie Jean milik Michael Jackson dengan syahdu, dan kemudian dilanjutkan lagi dengan lagu The Sun sampai selesai. Lagu-lagu Maroon5 yang menjadi hits seperti "She Will Be Loved" "If I Never See Your Face Again" tentu membuat gelombang penonton memulai koor dan melambaikan tangan. Dalam beberapa kesempatan, Adam juga memancing penonton untuk menikmati penutup dari sebuah lagu dengan berulang seperti pada lagu "She Will Be Loved" yang mana Adam mengajak penonton berkali-kali menyanyikan "... So hard to say goodbye..."

Sementara sampai disini dahulu review saya. Foto-foto lainnya segera menyusul. gokil, ngantuknya gak ketolongan ini. habis menonton maroon 5, makan kenyang, nulis review, ngantuk banget. Sepertinya akan saya tambahkan cerita ini dalam waktu dekat....


25 April 2011

Cinta pertama dalam hidup saya: Sepakbola

"Anda bisa saja berganti pacar, berganti istri, dan berganti kelamin, tapi jangan pernah sekalipun mencoba berganti tim sepakbola favorit Anda" Anonim, tentu dengan sedikit modifikasi di bagian pergantian kelamin.
Sebagai orang Indonesia yang harus cukup puas melihat prestasi sepakbola level tim nasional yang selalu terpuruk selama 20 tahun ke belakang dan juga sebagai orang Jakarta yang tidak merasakan ikatan emosional yang kuat dengan tim sepakbola yang mempunyai home ground di Jakarta, maka kehadiran tim-tim sepakbola di layar kaca sedari saya kecil tentu saja menjadi sebuah penyejuk ataupun oase tersendiri untuk menikmati sajian sepakbola yang berkualitas tinggi. Saya lupa kapan saya pertama kali menonton pertandingan sepakbola di televisi, tetapi saya selalu mengingat kapan saya pertama kali jatuh hati kepada sebuah tim sepakbola.

Ada 2 tim sepakbola yang mengisi kehidupan saya:











  • Jatuh hati kepada Manchester United FC (sejak Final FA Cup 1996)
Semenjak saya kecil, keluarga saya sudah berlangganan harian Kompas. Dimulai dari kebiasaan Ayah saya yang membaca koran sebelum pergi ke kantor, saya yang masih SD ketika itu mulai ikut-ikutan ayah saya untuk membaca koran. Tentu saya yang masih kecil tidak tertarik membaca kolom politik dan berita ekonomi. Pada suatu hari yang sudah ditakdirkan Tuhan, perhatian saya tertuju kepada halaman terakhir Kompas (seingat saya ketika itu Kompas masih terbit 24 halaman) yang mengulas berita olahraga internasional. Disitu diliput pratinjau pertandingan Final FA Cup 1996 antara Manchester United vs Liverpool yang akan dilangsungkan di malam harinya. Saya masih ingat betul berita tersebut membahas kelebihan-kelemahan masing-masing tim pada posisi kiper, bek, gelandang, & striker. Ketika itu saya masih belum mengikuti sepakbola secara rutin, hanya saja ada semacam tuntunan/guidance/The Force/hidayah yang membuat saya menjadi antusias untuk mendukung tim Manchester United setelah membaca berita tersebut. Pada malam harinya, saya ingat betul Final FA Cup disiarkan di SCTV, saya menonton pertandingan tersebut sampai selesai dan Manchester United memenangkan pertandingan dengan skor 1-0. Gol semata wayang dicetak oleh Eric Cantona. Saya mulai benar-benar jatuh cinta terhadap Manchester United. Dan sejak pertandingan tersebut, kecintaan saya terhadap Manchester United setelah malam itu telah menjadi sejarah yang manis...

 

Semenjak saya jatuh hati kepada Manchester United pada tahun 1996, kemudian saya baru mengetahui ternyata ada event Piala Eropa 1996 yang digelar pada bulan Juni-Juli di Inggris. Saya mengikuti nyaris semua pertandingan di kejuaraan ini, dan barulah saya mengetahui berbagai macam negara-negara selain Inggris yang berpartisipasi di kejuaraan ini. Karena disuguhi pertandingan yang menarik di kejuaraan yang akhirnya dijuarai oleh Jerman ini, mulailah saya antusias terhadap sepakbola secara umum. Hal yang membuat saya jadi ingin mengetahui pertandingan liga-liga lainnya yang ditayangkan di layar kaca Indonesia. Hal yang membuat saya...
  • Jatuh hati kepada AC Milan (sejak pertandingan pembuka Serie A musim 1996/1997)
 Jatuh cinta kepada AC Milan merupakan hal yang fitrah menurut saya. Bukan saya yang memilih AC Milan, tapi AC Milan yang memilih saya. Saya benar-benar tidak bisa melupakan 1 hari spesial dimana saya akhirnya dibaptis secara rohani menjadi seorang Milanista. Sebuah rangkaian mukjizat. Hari Minggu di sekitar bulan Agustus/September 1996, hari itu saya malas betul untuk bergerak dari kamar tidur orang tua saya. Dari pagi hari saya terus menonton acara-acara televisi sambil tidur-tiduran. Hal ini terus saya lakukan sampai malam hari sehingga saya menjadi pusing dan akhirnya muntah-muntah. Tentulah saya muntah-muntah karena seharian saya tiduran saja, tidak beraktivitas, serta malas makan. Jadilah kepala saya pusing bukan main ketika itu. Ayah saya yang panik melihat kondisi saya yang jatuh malam itu, langsung membawa saya ke klinik Jakarta Medical Center (JMC) yang lumayan dekat dari rumah saya. Nampaknya saya sakit & dibawa ke klinik merupakan rangkaian dari mukjizat ini. Rangkaian mukjizat yang mengantarkan saya kepada AC Milan adalah ketika saya mesti menunggu giliran pemeriksaan oleh dokter umum. Di ruang tunggu yang tidak terlalalu ramai, ada televisi yang memutar pertandingan sepakbola. AC Milan vs Hellas Verona. Wow, akhirnya saya menonton Liga Italia. Saya yang menunggu giliran pemeriksaan dokter, terpana dengan sebuah gol yang tercipta di pertandingan tersebut. George Weah mencetak gol yang membuat saya yang ketika kecil saja sudah berdecak kagum melihatnya. Gol dari gawang ke gawang. Itulah yang saya bisa ingat. Di akhir pertandingan, AC Milan memenangkan pertandingan dengan skor 4-0. Dan sejak pertandingan tersebut, kecintaan saya terhadap AC Milan telah menjadi sejarah yang manis...


Ada yang mengatakan pada saya: "Gak konsisten banget sih lo! Ngedukung 2 tim di Eropa!" atau "Dasar Glory Hunter!" dan cibiran-cibiran lainnya yang intinya sih menggugat keputusan saya yang mendukung 2 tim ini. Saya cukup berkata:

"Bodo Amat! Gw dikenalkan Tuhan kepada 2 tim ini sedari gw kecil itu gw anggap anugerah ajaib tak terkira dan gw bersyukur untuk hal ini!"

Ya, saya merasa memang sudah takdir Tuhan dikenalkan oleh kedua tim ini dan langsung jatuh cinta kepada mereka. Gambaran lebih luasnya lagi, saya pada akhirnya mencintai sepakbola. Anugerah yang tak terkira karena pada akhirnya ketika saya beranjak dewasa, saya bisa berkenalan dengan banyak kawan-kawan lainnya yang mencintai sepakbola. Sungguh obrolan tentang sepakbola merupakan topik obrolan yang membuat 2 orang pria menjadi sangat cepat untuk mengakrabkan diri, membuat pembicaraan menjadi luwes mengalir kesana kemari, dan pada akhirnya membuat saya pribadi makin mencintai sepakbola itu sendiri. Dengan berkenalan serta mencintai sepakbola, saya akhirnya mengenal dunia dalam artian yang luas. Dunia yang indah sekaligus kejam. Ya, dengan sepakbola saya dapat berkenalan dengan bermacam orang dari latar belakang yang berbeda. Saya dapat mengakses informasi serta memiliki pengetahuan tentang budaya bermacam-macam bangsa karena kaitan bangsa tersebut dengan sepakbola. 

Saya dapat belajar kehidupan dari sepakbola. Bahwa sepakbola merupakan sebuah "mini game" yang diberikan Tuhan kepada dunia untuk mengajarkan manusia tentang hakikat kehidupan. Ada keindahan dalam sepakbola, ada kesalahan manusia di dalam sepakbola, ada permainan tim dalam sepakbola, ada tragedi dalam sepakbola, ada kerja keras di dalam sepakbola, ada tangan tuhan dalam sepakbola, ada tangisan dalam sepakbola, ada kebahagiaan dalam sepakbola, dan esensi utama bagi saya: ada makna akan kehidupan ini di balik permainan sepakbola.

Saat ini sudah 15 tahun semenjak saya jatuh cinta dengan sepakbola, Manchester United, & AC Milan. Selama kurun waktu 15 tahun ini sudah banyak gelar diraih oleh kedua tim ini, sudah pernah pula kedua tim ini mengalami fase-fase gelap. Seperti yang tertulis pada kalimat pembuka tulisan ini, apapun yang terjadi pada kedua tim ini, saya tidak akan pernah mengganti kedua tim favorit saya ini sampai saya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa suatu saat nanti. Suatu saat nanti saya ingin ngobrol kepada Yang Maha Kuasa, kemudian ingin berterima kasih karena telah memberikan Manchester United & AC Milan untuk memberikan kebahagiaan pada saya di dunia ini. Tentu juga, ucapan syukur yang paling mendasar adalah terima kasih Tuhan karena engkau telah menghadirkan sebuah permainan bernama sepakbola di dunia ini :)

"Soccer is the biggest thing that's happened in creation. It's bigger than any 'ism' you can name." Alan Brown






24 April 2011

Larut dalam romansa galau "Gue Ingin" dari Super Bejo

90's is the best!
Mungkin saya terlalu lugu untuk menyatakan bahwa dekade 90an merupakan dekade terbaik yang pernah dinikmati manusia Indonesia. Sebagai generasi manusia Indonesia yang terlahir di akhir tahun 80an, wajar adanya jika akhirnya dekade 90an (1990-1999) sangat mempengaruhi tumbuh kembang pribadi saya dalam mengenal Indonesia dari perspektif pribadi. Tumbuh kembang saya tentu sangat dipengaruhi akan lingkungan tempat saya bertumbuh. Dari lingkungan inilah saya mengenal berbagai jenis musik untuk saya dengarkan. Dalam hal ini, saya bersyukur karena mudah mendapat akses untuk menonton acara musik ataupun klip lagu di Televisi, mendengarkan radio, ataupun mendengarkan kaset serta CD koleksi kakak saya.

Akan ada banyak hal yang bisa dikupas dari "musik Indonesia seperti apa saja pada dekade 90an yang mempengaruhi tumbuh kembang saya?". Tetapi di tulisan ini saya akan memfokuskan pada salah satu lagu Indonesia yang saya sukai di masa 90an tersebut. Lagu ini dinyanyikan oleh duet Super Bejo yang anggotanya adalah MC kondang di masa 90an tersebut, Edwin & Djodhy. Judul lagu tersebut adalah "Gue Ingin". Kenapa lagu ini yang saya pilih disini? Ini lebih dikarenakan saya sekarang semakin kagum oleh kekuatan lirik di lagu ini sendiri. Ketika menulis tulisan ini sebenarnya saya tidak lagi galau, saya justru mencoba memberi apresiasi sedalam-dalamnya terhadap pengarang lirik lagu ini. Lirik lagu ini sangat jujur menceritakan seorang pria dengan hati hampa serta tidak ingin melewatkan malam sendirian dan berharap ditemani oleh pasangannya. Entah kenapa saya sangat suka penggalan lirik yang ini:

Hanya rinai hujan menemani
Gemericik menggema
Semilir angin menerpa nurani
Membuat diri ini semakin hampa


Penggunaan kata ganti orang pertama di lagu ini "gue" ketimbang menggunakan kata "aku"/"Saya" juga membuat lagu ini menurut saya lebih kena ke dalam hati pendengar. Menghilangkan kesan bahwa lagu ini formal dan juga cocok dengan interpretasi mood Djodhy dalam menyanyikan lagu ini. Tentu saja bagi saya mayoritas lagu-lagu Indonesia pada umumnya yang booming pada tahun 90an salah satu kekuatannya adalah dalam pemilihan liriknya yang tidak cheesy, lagu ini pun bagi saya tidak cheesy serta jauh dari suasana melankolis. Dengan musik rock yang mengiringi lagu ini, "Gue Ingin" dapat merepresentasikan kekuatan lagu-lagu pada era 90an. Sebuah era dimana saya tambah bersyukur dan merasa beruntung bahwa saya tumbuh kembang di era ini karena saya banyak mendengar musik-musik dari industri musik Indonesia dengan kualitas seperti ini. Ya, kalimat terakhir tentu saya gunakan untuk menyindir musik yang beredar pada industri musik saat ini yang makin menuju titik nadir kekreativitasan dari pelaku industri di dalamnya.

Pilihan lagu terkadang mencerminkan perasaan hati kita tentunya dan sebenarnya ketika sedang galau saya cukup terhibur ketika memutar video klip lagu ini. Video klip lagu ini sendiri memparodikan cerita film Romeo + Juliet (1996). Dengan lirik lagu galau + video klip seperti ini, rasanya galau yang tertambat di dalam hati bisa sedikit berkurang kadarnya :p haha. Kehadiran Andhara Early ketika masih muda sebagai model video klip lagu ini juga bisa membuat saya tersenyum ketika menontonnya. Baiklah, sampai disini dahulu tulisan saya, lain kali (baca: jika ada niat) saya akan menulis dan menaruh lagu-lagu lainnya dari zaman 90an yang berkesan bagi saya.

*drum roll* Kita sambut, band yang telah meraih platinum versi mbahdiddo: SUPER BEJO!!

 

Malam sunyi kembali lara sendiri
Gelap pekat entah apa yang tersirat

Hanya rinai hujan menemani
Gemericik menggema
Semilir angin menerpa nurani
Membuat diri ini semakin hampa
Tak mengerti lagi mesti bagaimana

Gue ingin malam ini loe ada disini
Temani gue yang goyah serasa tak berarti
Gue ingin loe rasakan galau hati ini
Hingga gue dapat nikmati indahnya hidup ini

Malam sunyi kembali lara sendiri
Gelap pekat entah apa yang tersirat

Hanya rinai hujan menemani
Gemericik menggema
Semilir angin menerpa nurani
Membuat diri ini semakin hampa
Tak mengerti lagi mesti bagaimana

Gue ingin malam ini loe ada disini
Temani gue yang goyah serasa tak berarti
Gue ingin loe rasakan galau hati ini
Hingga gue dapat nikmati indahnya hidup ini

Hanya rinai hujan menemani
Gemericik menggema
Semilir angin menerpa nurani
Membuat diri ini semakin hampa
Tak mengerti lagi mesti bagaimana

Gue ingin malam ini loe ada disini
Temani gue yang goyah serasa tak berarti
Gue ingin loe rasakan galau hati ini
Hingga gue dapat nikmati indahnya hidup ini