31 Mei 2014

Tanah Pengharapan

Berbicara tentang Inggris, ingatan saya langsung terbang melayang ke romantisme masa kecil di dekade 90an. Tidak hanya sekedar tumbuh sebagai seorang anak yang mendapat perhatian dari orang tua, tetapi juga sebagai individu yang terpengaruh dengan konten tontonan yang banyak memberikan dampak positif dalam hidup saya sampai saat ini. 

Anekdot yang berkata “Anak 90an dengan televisi merupakan sahabat karib” itu nyata terbukti pada saya. Televisi merupakan jendela informasi terbaik bagi saya untuk mengetahui bahwa ada negara bernama Inggris di Eropa nun jauh di sana yang memberikan banyak keceriaan melalui perilaku para pesohornya.

Sepakbola Liga Inggris, komedi segar a ‘la Mr. Bean, sosok yang menginspirasi seperti Lady Diana, serta musik yang brilian dari Lennon-McCartney-Harrison-Starr adalah sebagian souvenir yang diberikan Inggris kepada dunia. Tetapi bagi saya, ada satu souvenir yang paling indah di antara semua itu. Sepakbola Liga Inggris mempertemukan saya dengan cinta pertama dalam hidup: Manchester United FC.

Awalnya sederhana.
Final Piala FA 1996.
Wembley Stadium, London.
Manchester United vs Liverpool.
Pertandingan berjalan dengan ketat sampai ketika di menit 85 seorang Raja dari Prancis, Eric Cantona, dengan kaki kanannya mencetak gol semata wayang kemenangan United.
Di kaki Cantona, menyanyi paduan suara para malaikat yang melenyapkan rasa takut dan memberikan kesegaran jiwa bagi para penggemar.
Magis.

Saya yang belum genap berusia 10 tahun, hanya bisa tertegun kagum melihat luapan kegembiraan Eric Cantona dan rekan-rekannya mengangkat tropi Piala FA. Ada impian yang timbul dalam jiwa kanak-kanak saya ketika melihat perayaan juara United.

Dalam sekejap David Beckham, Peter Schmeichael, Paul Scholes, Ryan Giggs menjadi pahlawan dalam hidup saya. Manager United, Sir Alex Ferguson, seketika seperti menjadi figur ayah tidak hanya bagi para pemainnya di lapangan, tetapi juga bagi saya dan jutaan fans United lainnya di seluruh dunia.

Sir Alex Ferguson adalah sosok profesional dengan etika kerja yang luar biasa. Sosok yang selalu datang paling awal ke tempat latihan di Carrington dan juga pulang paling akhir setelah menjalankan tugas manajerial. Tindak tanduk Ferguson yang tegas terhadap para pemainnya ketika United didera kekalahan, melindungi para pemainnya dari kritikan media yang kejam, dan juga lembut terhadap para anak asuhnya ketika sedang dirundung rasa frustasi dalam meniti karir di Old Trafford. Segala perilaku Sir Alex Ferguson tersebut adalah pengejawantahan esensi kehidupan: Berikanlah yang terbaik di dalam tiap detik kehidupan maka seluruh dunia akan terinspirasi.

Para pahlawan yang menginspirasi dari kota Manchester itu terpisah ribuan kilometer jauhnya dari tempat saya tinggal di Jakarta, tetapi emosi dan perjuangan yang mereka rasakan kala bertarung di lapangan hijau sangat nyata nuansanya.

Ada rasa getir ketika United tumbang di Anfield melawan rival abadi Liverpool.
Ada rasa gundah ketika Jose Mourinho bersama Chelsea tidak pernah dikalahkan United di Stamford Bridge.
Ada tangis gembira ketika Robin van Persie dapat mencetak gol  kemenangan United melawan City kala menit akhir di Etihad Stadium.
Ada pengharapan tercipta kala meneriakkan chant dukungan: “U-N-I-T-E-D. United Are The Team For Me!”

Mendukung Manchester United berarti mempercayai bahwa mukjizat itu nyata.
Percaya di final Liga Champions 1999 bahwa setelah tertinggal 1 gol dalam 90 menit, United akan membalikkan keadaan dengan mencetak 2 gol dalam 112 detik di injury time.

Percaya di final Liga Champions 2008 bahwa seorang legenda seperti John Terry bisa terpleset kala mengambil penalti penentuan Chelsea, United akan membalikkan keadaan dengan menjadi juara di momen sudden-death.

Percaya bahwa ada spirit dalam hidup ini yang dapat membuat suatu hal yang mustahil menjadi tidak mustahil.
Spirit yang membuat manusia akan mampu keluar dari krisis apa pun yang menghantam, asalkan kita mau menerima dan membiarkan spirit itu mengalir memberi kekuatan di kalbu yang terdalam.

Dan…
Inggris adalah tanah impian tempat dimana spirit itu bertumbuh dalam jiwa saya.
Datang ke tanah Inggris merupakan suatu perwujudan nyata dalam menselebrasikan kehidupan:

Mewujudkan impian masa kanak-kanak

Tidak sekedar melalui televisi belaka.
Tetapi melalui interaksi nyata dan personal dengan penduduknya secara langsung.
Tidak hanya menjadi angan-angan dalam batin saja,
Tetapi melalui senda gurau mengenang pengalaman masa kecil selama perjalanan menyusuri kota-kota bersejarah di Inggris.

Mengenang prosesi pemakaman Lady Diana yang syahdu di Westminster Abbey.
Mengenang penampilan ikonik Rowan Atkinson ketika menggunting kumis seorang Royal Guard di Buckingham Palace.
Mengenang revolusi musik dunia yang bermuara pada 4 sosok jenius dari kota Liverpool di Beatles Museum.
Serta,

Mengenang dan mempertahankan selama mungkin jiwa kanak-kanak yang tersemat dalam diri saya. Seorang anak dengan sebuah pengharapan: Hidup dalam sebuah keajaiban dunia bernama Manchester United di Old Trafford.


Jakarta, 31 Mei 2014



#InggrisGratis


Me and The Savory SMAX Balls + The Sweet SMAX Cippy

23 Mei 2014

Dirinya

Tentang seseorang yang tidak berhenti menangis sesengukan di hadapanku malam ini...
Tentang seseorang yang ingin menyudahi kepalsuannya di hadapanku malam ini..
Tentang seseorang yang kehilangan jiwanya di hadapanku malam ini.

Tentang seseorang yang mulai membuka pembicaraan:

"Eh lo tau Diana kan? Pasti lo tau! Gue yakin banyak yang bermimpi bisa sama dia ...."

Dirinya tetiba terdiam. Menyeringai menatapku dengan sisa tangisnya beserta sedikit desisan tawanya yang penuh arti. Kemudian dirinya melanjutkan ceritanya dengan perlahan.

"Ahhhh... BBM-an. Gue ajak hang out di GI. Dia nyaman. Malam makin larut. Gue pancing balik ke apartemen. Dan dia gak mau pulang! Ahhhhh..."
"Diana hanya bisa merintih tersedu sambil menggumamkan nama mantannya yang bajingan itu!"
"Diana bilang kemarin itu pertama kalinya dalam hidupnya doing THAT thing with a girl..."

Sambil menyeka bulir air mata yang perlahan mengalir di matanya. Dirinya mengambil posisi lebih tegap lagi sebelum melanjutkan ceritanya. Ditariknya dalam-dalam udara yang sudah terkepung oleh asap rokok di sekitar dirinya. Dihembuskannya melalui mulut dengan hembusan yang tegas. Dirinya sudah mulai bisa menenangkan pilu hatinya.

"Trus.. Lo tau Satria kan? Yaa.. bocah kemaren sore sih.. Tapi dia ..."

Dirinya kemudian tercekat. Rasanya seperti ada duri yang tersangkut di tenggorokannya. Sulit sekali dirinya mengutarakan maksudnya. Sampai akhirnya dengan terbata-bata dirinya berujar

"Haha.. hahaaahaa.. hahahaa. haaaa! Gokil! My first time doing THAT thing with a man!"
"Ahhhh.... Whatsapp-an. Dia ngajak gue ketemu di BG. Kita larut dalam suasana...."

.... Ada 5..10 detik penuh keheningan yang terasa janggal sebelum dirinya melanjutkan cerita...

"Nope... Gak seperti yang lo bayangkan! Hahaha"
"Alkohol. Tatap mata. Ciuman. Toilet. Tubuhnya. Selesai"
"It was a mistake... Indeed... But, it was insanely exhilarating though!"

Dirinya menatapku dengan senyuman....
Kelamaan, tatapannya menjadi kosong...
Lama sekali dia menatapku..
Sampai akhirnya isak tangisnya memecahkan suasana malam ini.

"Gue gak tau harus mulai dari mana lagi."
"Gue gak tau harus berharap apa lagi ama hidup"
"Gue gak tau harus ngapain lagi melawan brengseknya diri gue"
"Gue gak tau harus minta apa lagi sama bokap, nyokap, abang, pacar... sama elo"

"Gue capek..."

Dirinya meraung sejenak...
Dan akhirnya dia tertidur..
Besok dirinya akan melupakan 5 menit ini.

...
..
.

Dirinya merupakan elegi
Di dalam kehidupan tentang tragedi
Tubuhnya berkeliaran tak tentu rimbanya
Jiwanya tersesat dalam palung ketakutannya

Kemudian,

Aku pergi meninggalkan dirinya... Dirinya yang dijebak nadir keputusasaan.
Aku pergi meninggalkan dirinya.. Dirinya yang diselimuti prahara keterpurukan.
Aku pergi meninggalkan dirinya. Dirinya yang dihempaskan gemerlap metropolitan.



Jakarta, 23 Mei 2014

p.s: cerita super pendek ini dipersembahkan untuk @bellamandajati yang mengusulkan ke gw di twitter tentang "kaum urban jakarta" sebagai ide cerita pendek. Ini sedikit interpretasi gw akan absurdnya "kaum urban jakarta" beserta semua konsekuensi ekstrim yang akan ditanggung di kala manusia terus menerus mencari kebahagiaan di luar ketimbang menggali dengan utuh ke dalam diri sendiri.