20 Juni 2015

Bertualang di Den Haag dengan OV Chip Card


Akan selalu ada cerita yang bisa dibagikan ketika kita pergi jalan-jalan. Di sini saya akan cerita tentang pengalaman saya ketika liburan ke Belanda lalu menggunakan moda transportasi Bus & Tram ketika bepergian di kota The Hague/Den Haag di awal tahun 2015 ini.

Tentu saja tidak seperti di Indonesia (Jakarta khususnya) yang tertinggal jauh dalam urusan infrastruktur dan transportasi publik, Belanda (The Hague khususnya) sangat canggih dalam menata sistem transportasi publiknya. Saya yang terbiasa menggunakan angkutan seperti KWK, Kopaja, Metromini, dan tentu saja Bus TransJakarta di ibukota tercinta dibuat takjub oleh pengalaman menggunakan transportasi umum di The Hague.

Tetapi tulisan ini tidak dibuat untuk mengolok-olok dan membandingkan Belanda dan Indonesia. Sudah cukup jelas negara kita ketinggalan 10 dekade atau mungkin lebih dibandingkan dengan transportasi publik di Belanda. Walau proyek MRT yang didengungkan oleh Gubernur Ahok sudah dalam tahap konstruksi, tapi maafkanlah saya yang selalu pesimis akan pengelolaan serta kesinambungan segala proyek transportasi di sini. Setidaknya, di belahan dunia lain saya dapat merasakan pengalaman menikmati transportasi publik yang sangat nyaman.
Seperti apa pengalaman yang saya rasakan ketika naik Bus & Tram di Belanda ini? 

Di The Hague ini segala alur informasi tentang di halte mana kita berada sangatlah jelas. Di halte ada papan penunjuk bewarna kuning yang menjelaskan:
Dimana kita berada --> di halte Stuyvesanstraat
Bus & Tram apa saja yang melewati halte -->  Bus #23 dan Tram #2
Estimasi waktu kedatangan Bus & Tram (Di gambar bagian tengah bawah papan elektronik, terdapat informasi kapan Bus & Tram akan datang dan tentu saja tidak ngaret! =)
Papan Penunjuk Arah Bus

Halte juga dilengkapi tempat duduk dan atap yang berguna melindungi para calon penumpang yang menunggu kedatangan Bus & Tram. Di halte ini juga ada info grafis yang memberi informasi interval kedatangan Bus & Tram setiap harinya. Pada hari biasa/weekdays interval kedatangannya tiap 10-15 menit sekali, tentu tergantung waktu. Pagi hari ketika jam pergi ke kantor, frekuensi kedatangan akan lebih sering.

Calon penumpang yang menunggu bus dengan sabar

Kebetulan pada hari itu, saya ingin pergi menuju Centruum The Hague yang merupakan pusat perbelanjaan di area dekat saya tinggal di Stuyvesanstraat. Maka saya akan naik Tram nomor 2.

Tibalah Tram datang ke halte, maka sebelum masuk ke dalam Tram, penumpang dapat memencet tombol berwarna kuning supaya pintu Tram terbuka. Ada juga tombol berwarna biru yang bergambar kursi roda. Dugaan saya tombol ini ada untuk memudahkan kaum difabel masuk ke dalam Tram dan juga membuat pintu Tram terbuka lebih lama.
Pilih tombol berwarna kuning


Terbiasa untuk membeli tiket di loket ketika membeli karcis TransJakarta?
Terbiasa menunggu ditagih ongkos oleh kenek Kopaja/Metromini?
Terbiasa membayar tunai ongkos angkot di Mikrolet/KWK?

Maka kebiasaan itu tidak berlaku di dalam Tram ini berkat OV CHIPKAART (selanjutnya disebut OV)

OV Chipcard yang berfungsi sebagai alat pembayaran
OV merupakan alat pembayaran pengganti uang tunai yang dapat digunakan untuk naik transportasi publik seantero Belanda. Cara penggunaannya sangat mudah. Setelah masuk ke dalam bus/tram, penumpang tinggal memindai OV ke Card Reader yang disediakan di dekat pintu (lihat gambar di bawah ini). Otomatis saldo akan terdebet dan OV Card Reader akan menunjukkan sisa saldo yang tersedia.
Sepintas penggunaan OV ini mirip seperti menggunakan kartu jika kamu naik bus di Singapore.

OV bisa didapatkan di terminal pusat di masing-masing distrik. Ibaratnya, di Jakarta bisa didapatkan di Blok M, Kampung Rambutan, Harmoni.


Tempel OV Chipcard ke card reader
Kamu bisa melihat cara penggunaan OV di gambar yang saya sematkan di tulisan ini.
Praktis bukan?
Saya bertanya kepada kakak saya, apa yang terjadi jika ada penumpang yang sengaja/tidak sengaja lupa menyentuhkan OV ini ke Card Reader? Well, mentalitas "endonesa" saya terlintas begitu saja melihat kemungkinan adanya kesempatan dalam kesempitan seperti ini :))

Apakah akan segera ditindak petugas? ataukah dibiarkan melengang begitu saja?

Well, tentu saya tidak akan mengorbankan kemerdekaan diri saya untuk mencoba membuktikannya
Kakak saya hanya berkata, hati-hati karena segala tindakan akan terekam oleh CCTV dan sering kali ada petugas sidak di stasiun stasiun pusat.

Okesip kakak!

OV Card Reader
Selama perjalanan di Den Haag, saya sangat menikmati layanan transportasi publik. Tepat waktu adalah kunci dari segalanya.
Ongkos naik bus & transport pun akan lebih murah jika menggunakan OV daripada membayar tunai langsung. Kisaran ongkos dengan OV jika naik tram & bus di dalam kota ada di kisaran 1-2 (tentu kalau di rupiahkan terasa menohok juga)

Saya menikmati perjalanan saya menuju taman Madurodam, pusat ekonomi Den Haag Central, pantai Scheveningen, sampai ke Delft semuanya dengan mengandalkan bus  & tram... Saking nikmatnya hingga saya ada angan andai saja sistem dan infrakstuktur di Indonesia bisa secanggih dan semanusiawi ini.

Situasi santai di stasiun SPUI

Den Haag dengan segala keramah tamahan manusianya.
Dengan segala ketertiban dan kecanggihan transportasi publiknya.
Dengan segala syahdu keheningan yang terpancar dari aura kotanya.

Sungguh saya ingin menghabiskan masa tua saya di kota yang menyenangkan seperti ini

Dengan begitu marilah bersabar menantikan liburan akhir tahun 2016 ;)





15 Desember 2014

[Movie Review] Interpretasi tentang Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh (2014)

Setiap menonton dan mengalami film (experience the movie), saya selalu menetapkan suatu standard di dalam kalbu saya untuk menilai bermaknanya suatu film terhadap diri ini. Standard tersebut dapat disimpulkan menjadi suatu pertanyaan sebagai berikut:

"Apakah film yang saya tonton ini memberikan dampak psikologis terhadap perasaan saya pasca credit title muncul di layar?"

Apabila muncul suatu perasaan bangga, sedih, terluka, tertawa, dll yang sifatnya menyentuh ruang kalbu saya dan membuat saya terngiang-ngiang akan film tersebut, itulah tandanya saya tercerahkan karena "experience the movie".

Kemudian yang membuat saya kaget sendiri, saya tidak pernah menyangka saya akan dibuat terkesan dan menulis review dari film Supernova garapan Rizal Mantovani. Ada 3 poin yang saya coba tuangkan:
  1. Kenapa saya menuangkan interpretasi Supernova melalui ulasan ini? Karena saya mendapat dampak psikologis paska menonton Supernova
  2. Kenapa mendapat dampak psikologis? Karena tidak menyangka dengan tema film yang filosofis dan narasi Supernova yang nyaman untuk dicerna
  3. Kenapa bisa sampai tidak menyangka? Yah, karena ini film Indonesia (Sejujurnya saya selalu merasa inferior duluan dengan karya produksi Indonesia) dan apalagi ini diproduseri oleh Soraya Intercine Film yang notabene bagi saya jauh dari niat mengangkat tema yang filosofis untuk dijadikan suatu dasar cerita dalam produksi layar lebar
Lalu, dampak psikologis apa yang saya rasakan?

"Mencari" adalah hakikat dari kehidupan manusia.
Sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih "mencari".
Saya coba memahami dengan skala pemikiran yang saya percayai bahwa proses "mencari" adalah suatu penggalian ke dalam diri tiada henti.
Bisa jadi akan menjadi suatu hal yang nihil jikalau proses pencarian ini terus dipikirkan tanpa mensyukuri lalu menerima dengan sikap mengalir mengenai apa saja yang saya alami tiap saatnya.
Terkait penggalian diri, maknanya dalam bagi diri saya.

Lalu, saya tidak pernah menyangka ternyata Supernova membawa kisah yang maknanya dalam untuk dikupas. Sangat jarang saya temui film apalagi film Indonesia yang mempunyai lapisan berlapis-lapis baik dalam narasi maupun ruh yang tersemat dalam cerita Supernova itu sendiri. Terakhir saya menonton film Indonesia yang membawa dampak seperti ini ke saya adalah film klasik "Apa Jang Kau Tjari, Palupi?" (1969) arahan sutradara Asrul Sani serta film dokumenter "The Look of Silence (SENYAP)" (2014) karya Joshua Oppenheimer.

Memangnya seperti apa cerita film Supernova ini?
Cerita film ini diambil dari novel karangan Dewi Lestari dengan judul yang sama.
Kabarnya novel ini merupakan best-seller di jamannya. Karena saya bukanlah seorang yang rajin membaca novel, sudah tentu saya hanya pernah mendengar judul novelnya saja tanpa tahu apa isinya.
Jadi saya benar-benar menikmati narasi yang disodorkan oleh pembuat film tanpa ada ekspektasi apapun.
Secara singkat cerita mengalir dari Dimas dan Reuben yang bertemu di Washington karena suatu kebetulan, kemudian mereka berjanji akan membuat suatu tulisan mahakarya 10 tahun selepas pertemuan tersebut. Akhirnya mereka benar-benar membuat tulisan itu. 3 karakter utama dengan peran sebagai Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang dipersatukan oleh suatu Avatar di internet yaitu Supernova. Sinopsis lengkapnya tentu bisa googling, karena saya tidak akan membahas terlalu lama di sini.

Film ini bagi saya adalah tentang penggalian makna hidup yang direngkuh melalui pahitnya dampak suatu hubungan. Bahwasanya Ksatria berharap mendapat setiitk kebahagiaan yang sudah lama diidamkan dalam hidupnya, tetapi kenyataan hanya menawarkan hal pahit:

Ksatria tidak bisa mendapatkan Putri, kemudian mempertanyakan apa artinya dia mesti hidup dalam kehidupan yang penuh dengan duka bagi dirinya. Dari pertanyaan- pertanyaan yang diajukan melalui korespondensi di dunia maya itulah akhirnya Ksatria bertemu dengan Supernova. 

Supernova adalah cerminan diri Ksatria.

Saya coba resapi dengan perspektif ini:


Manusia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, kemudian mempertanyakan apa artinya dia mesti hidup dalam kehidupan yang penuh dengan duka bagi dirinya. Dari pertanyaan- pertanyaan yang diajukan melalui korespondensi dalam bentuk lantunan doa itulah akhirnya Manusia "bertemu" dengan Dia. 

Manusia adalah cerminan diri Dia.

========================================================

Sangat jarang saya bisa berpikir sampai sejauh ini hanya karena film Indonesia.
Butuh cerita dan skenario yang kuat dan juga butuh karakter yang dapat kita relasikan serta dipahami agar mencapai suatu titik simpati mendalam.
Itulah yang bisa dicapai oleh film Supernova ke dalam diri saya.

Saya menikmati narasi dari film ini.
Saya tidak akan membahas segala kekurangan yang ada, saya akan fokus terhadap nilai spesial yang ditawarkan oleh film Supernova.

Kisah yang dibangun Dimas dan Reuben yang berkembang dalam diri Ferre, Rana, Arwin, dan juga Diva.
Dengan dialog yang nampaknya dicomot dari novelnya oleh penulis skenario Donny Dirghantara, menghasilkan suatu dialog dengan bahasa Indonesia yang amat sangat baku dan diksi yang jarang saya temui. Contohnya adalah Bifurkasi; kata yang jarang saya dengar dalam pergaulan sehari-hari.
Tetapi saya tidak terganggu dengan hal ini, malahan saya serasa mengalami 2 jam yang membuat saya mengagumi betapa kayanya ragam berbahasa Indonesia.

Visual yang memanjakan mata. Pemilihan lokasi shooting yang asyik. Saya menikmati Pesudo Jakarta yang dipresentasikan oleh Rizal Mantovani. Rumah Ferre di pinggir tebing yang langsung berbataskan dengan  laut yang indah. Ferre dan Rana memadu kasih di atas pesiar dengan latar laut tersebut. Adegan pernikahan Rana yang digarap dengan detail yang baik. Ferrari milik Ferre. Diva dengan keanggunannya melenggok di atas catwalk dan di kamar hotel...

Adegan animasi yang disisipkan juga sangat baik untuk ukuran film Indonesia. Film ini nilai produksinya mahal. Kabarnya dana produksi film ini mencapai Rp 20M, nilai yang fantastis mengingat untuk balik modal saja butuh 1 juta penonton untuk mencapainya.

Herjunot sebagai Ferre mampu memamerkan dimensi Ferre yang menutupi kerapuhannya dengan kompleks. Bukan hal mudah memainkan karakter yang penuh luka dalam hidupnya kemudian menunjukkan sisi kuatnya dalam kehidupan sehari-hari untuk kemudian meluruh ketika bertemu dan menjalin hubungan dengan sang Putri: Rana.

Raline Shah sebagai Rana juga mampu menunjukkan kegelisahannya dalam menatap realita hidupnya yang serba terjepit oleh keputusan-keputusannya di masa lalu. Getir dalam kehidupan pernikahannya yang tidak sesuai ekspektasi dan menutupinya dengan pemahaman "Semua baik-baik saja bersama Arwin. Suami yang sangat mencintai diriku... tapi tidak dengan cara yang tepat.... tapi setidaknya semua harus baik-baik saja"

Fedy Nuril sebagai Arwin.. Tatap matanya yang memendam amarah bercampur dengan pedihnya dikhianati... Ditunjukkannya dengan baik dengan gestur dan caranya mengucapkan dialog demi dialog apalagi ketika bagian Arwin memeluk Rana di saat momen kejujuran.

Paula Verhoven sebagai Diva.. Titik lemah di film ini..Kaku layaknya otot yang tidak pernah dilatih keluwesannya... Dia lebih cocok sebagai model daripada sebagai aktris... Andaikan dialog final di kala Ferre dan Supernova bertemu di kamar server komputer disampaikan dengan Diva dengan nuansa yang dinamis, maka saya yakin adegan itu harusnya bisa jadi klimaks yang mampu membawa penonton dengan kadar emosi yang tepat untuk mencerna secara implisit tentang apa itu Supernova... Sayang sekali, Diva membawakannya dengan datar,,,,

Peramu dari segala produksi film ini adalah Ram Soraya dan juga anaknya: Sunil Soraya dalam naungan rumah produksi Soraya Intercine Film yang mulai rutin memproduksi film yang diangkat dari novel best seller mulai dari "5cm" (2012) dan "Tenggelamnya Kapal van Der Wijck" (2013). Menurut saya di tiap produksinya, Soraya Film selalu memperbaiki performanya paling kentara dari segi teknis. Teringatlah saya akan van der wijck yang gradasi warnanya berubah ubah dari awal sampai akhir film...

Bagaimanapun, saya salut dengan keberanian Soraya Film untuk mengangkat novel-novel yang punya "nilai".
Supernova adalah anak dari Dewi Lestari yang spesial.
Butuh keberanian berupa nyali, uang yang sangat banyak (tentu tidak ada jaminan balik modal di industri perfilman Indonesia yang punya risiko investasi yang tinggi), dan orang-orang produksi yang punya otak kreatif yang sanggup berpikir di luar kotak untuk memfilmkan Supernova secara estetis dan juga punya nilai komersial.

Menurut saya Supernova mencapai titik tersebut serta mampu membuat saya terus terngiang 2 hari setelah menontonnya di layar lebar XXI.

Rasanya tiket yang saya beli serta tepukan tangan saya di akhir pemutaran film ini kurang cukup untuk mengapresiasi betapa spesialnya film ini.

Untuk itulah saya ingin mengapresiasi melalui tulisan yang sederhana ini :)

Segeralah tonton Supernova kala masih ada di layar bioskop nasional, film ini adalah yang orang Indonesia butuhkan. Di saat masih banyak yang protes dan sinis terhadap film Indonesia dan koar-koar minta dibikinin film yang bagus (dan juga membuat berpikir), Soraya Film menjawabnya dengan Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh.

Sebuah karya yang saya tunggu untuk diproduksi oleh sineas Indonesia.
Tidak ragu saya mengatakan ini adalah film Indonesia terbaik yang saya tonton sepanjang tahun 2014.



31 Mei 2014

Tanah Pengharapan

Berbicara tentang Inggris, ingatan saya langsung terbang melayang ke romantisme masa kecil di dekade 90an. Tidak hanya sekedar tumbuh sebagai seorang anak yang mendapat perhatian dari orang tua, tetapi juga sebagai individu yang terpengaruh dengan konten tontonan yang banyak memberikan dampak positif dalam hidup saya sampai saat ini. 

Anekdot yang berkata “Anak 90an dengan televisi merupakan sahabat karib” itu nyata terbukti pada saya. Televisi merupakan jendela informasi terbaik bagi saya untuk mengetahui bahwa ada negara bernama Inggris di Eropa nun jauh di sana yang memberikan banyak keceriaan melalui perilaku para pesohornya.

Sepakbola Liga Inggris, komedi segar a ‘la Mr. Bean, sosok yang menginspirasi seperti Lady Diana, serta musik yang brilian dari Lennon-McCartney-Harrison-Starr adalah sebagian souvenir yang diberikan Inggris kepada dunia. Tetapi bagi saya, ada satu souvenir yang paling indah di antara semua itu. Sepakbola Liga Inggris mempertemukan saya dengan cinta pertama dalam hidup: Manchester United FC.

Awalnya sederhana.
Final Piala FA 1996.
Wembley Stadium, London.
Manchester United vs Liverpool.
Pertandingan berjalan dengan ketat sampai ketika di menit 85 seorang Raja dari Prancis, Eric Cantona, dengan kaki kanannya mencetak gol semata wayang kemenangan United.
Di kaki Cantona, menyanyi paduan suara para malaikat yang melenyapkan rasa takut dan memberikan kesegaran jiwa bagi para penggemar.
Magis.

Saya yang belum genap berusia 10 tahun, hanya bisa tertegun kagum melihat luapan kegembiraan Eric Cantona dan rekan-rekannya mengangkat tropi Piala FA. Ada impian yang timbul dalam jiwa kanak-kanak saya ketika melihat perayaan juara United.

Dalam sekejap David Beckham, Peter Schmeichael, Paul Scholes, Ryan Giggs menjadi pahlawan dalam hidup saya. Manager United, Sir Alex Ferguson, seketika seperti menjadi figur ayah tidak hanya bagi para pemainnya di lapangan, tetapi juga bagi saya dan jutaan fans United lainnya di seluruh dunia.

Sir Alex Ferguson adalah sosok profesional dengan etika kerja yang luar biasa. Sosok yang selalu datang paling awal ke tempat latihan di Carrington dan juga pulang paling akhir setelah menjalankan tugas manajerial. Tindak tanduk Ferguson yang tegas terhadap para pemainnya ketika United didera kekalahan, melindungi para pemainnya dari kritikan media yang kejam, dan juga lembut terhadap para anak asuhnya ketika sedang dirundung rasa frustasi dalam meniti karir di Old Trafford. Segala perilaku Sir Alex Ferguson tersebut adalah pengejawantahan esensi kehidupan: Berikanlah yang terbaik di dalam tiap detik kehidupan maka seluruh dunia akan terinspirasi.

Para pahlawan yang menginspirasi dari kota Manchester itu terpisah ribuan kilometer jauhnya dari tempat saya tinggal di Jakarta, tetapi emosi dan perjuangan yang mereka rasakan kala bertarung di lapangan hijau sangat nyata nuansanya.

Ada rasa getir ketika United tumbang di Anfield melawan rival abadi Liverpool.
Ada rasa gundah ketika Jose Mourinho bersama Chelsea tidak pernah dikalahkan United di Stamford Bridge.
Ada tangis gembira ketika Robin van Persie dapat mencetak gol  kemenangan United melawan City kala menit akhir di Etihad Stadium.
Ada pengharapan tercipta kala meneriakkan chant dukungan: “U-N-I-T-E-D. United Are The Team For Me!”

Mendukung Manchester United berarti mempercayai bahwa mukjizat itu nyata.
Percaya di final Liga Champions 1999 bahwa setelah tertinggal 1 gol dalam 90 menit, United akan membalikkan keadaan dengan mencetak 2 gol dalam 112 detik di injury time.

Percaya di final Liga Champions 2008 bahwa seorang legenda seperti John Terry bisa terpleset kala mengambil penalti penentuan Chelsea, United akan membalikkan keadaan dengan menjadi juara di momen sudden-death.

Percaya bahwa ada spirit dalam hidup ini yang dapat membuat suatu hal yang mustahil menjadi tidak mustahil.
Spirit yang membuat manusia akan mampu keluar dari krisis apa pun yang menghantam, asalkan kita mau menerima dan membiarkan spirit itu mengalir memberi kekuatan di kalbu yang terdalam.

Dan…
Inggris adalah tanah impian tempat dimana spirit itu bertumbuh dalam jiwa saya.
Datang ke tanah Inggris merupakan suatu perwujudan nyata dalam menselebrasikan kehidupan:

Mewujudkan impian masa kanak-kanak

Tidak sekedar melalui televisi belaka.
Tetapi melalui interaksi nyata dan personal dengan penduduknya secara langsung.
Tidak hanya menjadi angan-angan dalam batin saja,
Tetapi melalui senda gurau mengenang pengalaman masa kecil selama perjalanan menyusuri kota-kota bersejarah di Inggris.

Mengenang prosesi pemakaman Lady Diana yang syahdu di Westminster Abbey.
Mengenang penampilan ikonik Rowan Atkinson ketika menggunting kumis seorang Royal Guard di Buckingham Palace.
Mengenang revolusi musik dunia yang bermuara pada 4 sosok jenius dari kota Liverpool di Beatles Museum.
Serta,

Mengenang dan mempertahankan selama mungkin jiwa kanak-kanak yang tersemat dalam diri saya. Seorang anak dengan sebuah pengharapan: Hidup dalam sebuah keajaiban dunia bernama Manchester United di Old Trafford.


Jakarta, 31 Mei 2014



#InggrisGratis


Me and The Savory SMAX Balls + The Sweet SMAX Cippy

23 Mei 2014

Dirinya

Tentang seseorang yang tidak berhenti menangis sesengukan di hadapanku malam ini...
Tentang seseorang yang ingin menyudahi kepalsuannya di hadapanku malam ini..
Tentang seseorang yang kehilangan jiwanya di hadapanku malam ini.

Tentang seseorang yang mulai membuka pembicaraan:

"Eh lo tau Diana kan? Pasti lo tau! Gue yakin banyak yang bermimpi bisa sama dia ...."

Dirinya tetiba terdiam. Menyeringai menatapku dengan sisa tangisnya beserta sedikit desisan tawanya yang penuh arti. Kemudian dirinya melanjutkan ceritanya dengan perlahan.

"Ahhhh... BBM-an. Gue ajak hang out di GI. Dia nyaman. Malam makin larut. Gue pancing balik ke apartemen. Dan dia gak mau pulang! Ahhhhh..."
"Diana hanya bisa merintih tersedu sambil menggumamkan nama mantannya yang bajingan itu!"
"Diana bilang kemarin itu pertama kalinya dalam hidupnya doing THAT thing with a girl..."

Sambil menyeka bulir air mata yang perlahan mengalir di matanya. Dirinya mengambil posisi lebih tegap lagi sebelum melanjutkan ceritanya. Ditariknya dalam-dalam udara yang sudah terkepung oleh asap rokok di sekitar dirinya. Dihembuskannya melalui mulut dengan hembusan yang tegas. Dirinya sudah mulai bisa menenangkan pilu hatinya.

"Trus.. Lo tau Satria kan? Yaa.. bocah kemaren sore sih.. Tapi dia ..."

Dirinya kemudian tercekat. Rasanya seperti ada duri yang tersangkut di tenggorokannya. Sulit sekali dirinya mengutarakan maksudnya. Sampai akhirnya dengan terbata-bata dirinya berujar

"Haha.. hahaaahaa.. hahahaa. haaaa! Gokil! My first time doing THAT thing with a man!"
"Ahhhh.... Whatsapp-an. Dia ngajak gue ketemu di BG. Kita larut dalam suasana...."

.... Ada 5..10 detik penuh keheningan yang terasa janggal sebelum dirinya melanjutkan cerita...

"Nope... Gak seperti yang lo bayangkan! Hahaha"
"Alkohol. Tatap mata. Ciuman. Toilet. Tubuhnya. Selesai"
"It was a mistake... Indeed... But, it was insanely exhilarating though!"

Dirinya menatapku dengan senyuman....
Kelamaan, tatapannya menjadi kosong...
Lama sekali dia menatapku..
Sampai akhirnya isak tangisnya memecahkan suasana malam ini.

"Gue gak tau harus mulai dari mana lagi."
"Gue gak tau harus berharap apa lagi ama hidup"
"Gue gak tau harus ngapain lagi melawan brengseknya diri gue"
"Gue gak tau harus minta apa lagi sama bokap, nyokap, abang, pacar... sama elo"

"Gue capek..."

Dirinya meraung sejenak...
Dan akhirnya dia tertidur..
Besok dirinya akan melupakan 5 menit ini.

...
..
.

Dirinya merupakan elegi
Di dalam kehidupan tentang tragedi
Tubuhnya berkeliaran tak tentu rimbanya
Jiwanya tersesat dalam palung ketakutannya

Kemudian,

Aku pergi meninggalkan dirinya... Dirinya yang dijebak nadir keputusasaan.
Aku pergi meninggalkan dirinya.. Dirinya yang diselimuti prahara keterpurukan.
Aku pergi meninggalkan dirinya. Dirinya yang dihempaskan gemerlap metropolitan.



Jakarta, 23 Mei 2014

p.s: cerita super pendek ini dipersembahkan untuk @bellamandajati yang mengusulkan ke gw di twitter tentang "kaum urban jakarta" sebagai ide cerita pendek. Ini sedikit interpretasi gw akan absurdnya "kaum urban jakarta" beserta semua konsekuensi ekstrim yang akan ditanggung di kala manusia terus menerus mencari kebahagiaan di luar ketimbang menggali dengan utuh ke dalam diri sendiri.

22 Juni 2013

For me, Love is....

"This is Crazy, This Stupid, This is Love" (Crazy, Stupid, Love, 2011)

"... When love can come as a complete surprise" (Before Sunrise, 1995)

"You never forget your first love." (Flipped, 2010)


"If you believe in love at first sight... Take a closer look." (Closer, 2004)


"By chance, by coincidence...but inevitable." (The Classic, 2003)

"Boy meets girl. Boy falls in love. Girl doesn't." (500 Days of Summer, 2009)

"He loved her like there was no tomorrow." (If Only, 2004)

"Feel the heat, keep the feeling burning, let the sensation explode." 
(In the Mood for Love, 2000)

"Behind every great love is a great story." (The Notebook, 2004)

"A Story Sadder Than Sadness..." (More Than Blue, 2009)

"It's the love we've lost that haunts us..." (Tempting Heart, 1999)

"What if you had a second chance with the one that got away?" (Before Sunset, 2004)

"You can erase someone from your mind. Getting them out of your heart is another story."   (Eternal Sunshine of The Spotless Mind. 2004)

"love is betrayal. love is anguish. love is sin. love is selfish. love is hope. love is pain. love is death. what is love? love's a bitch." (Amores Perros, 2000)

07 Juni 2013

Romansa 90an: Hands - Jewel



In The End Only Kindness Matters...

Gw gak bisa tidur cepat pagi tadi, faktor karena kemarin gw tidur di sore hari sekitar 3 jam. Walhasil sampai jam 5 subuh, gw masih melek terang benderang ini mata.

Mencoba untuk tidur, apa yang harus gw lakukan?

Gw sudah menonton The Fountain-nya Darren Aronofsky dan Cast Away-nya Robert Zemeckis dari jam 23 sampai jam 3 subuh. Masih juga energi meluap.

Membuang energi secara kilat melalui suatu gerakan repetitif yang sudah populer dilakukan dari jaman pra sejarah ke salah satu anggota tubuh?
Tidak. Bukan dengan cara itu untuk subuh tadi.

Di subuh tadi gw mencoba berdoa. Tidak untuk menjadi sosok yang makin religi, tetapi ingin diberikan kenikmatan untuk merasakan kantuk. Berdoa sesuai dengan kegelisahan gw, dan entah mengapa dalam doa itu gw mendadak terbayang lagu Hands yang dinyanyikan oleh Jewel.

Okelah, faktor 90an juga menentukan di dalam sel kelabu otak gw. Mungkin sinapsis di otak gw langsung men-trigger kemunculan lagu Hands di dalam otak gw di kala untaian doa menjadi aktivitas random yang gw lakukan subuh tadi. Tapi, ternyata Hands bekerja dengan uniknya! Segera setelah gw dengerin Hands tadi subuh, gw langsung terlelap. Secara sentimentil, mungkin karena hati gw tergerak dengan makna lagu ini...

Hands adalah lagu yang gw inget banget sering dipedengarkan ketika gw masih SD. Terekam dalam memori gw karena nada yang catchy, hingga pada akhirnya ketika menginjak usia pra dewasa dan mengalami berbagai macam hal gw bisa memaknai lagu Hands ini lebih dalam... 
We are never broken... Cause in the end only kindness matters... I will get down on my knees and I will pray...

Lagu ini sendiri adalah untaian doa.
Untaian doa yang mengingatkan bahwa kita adalah mata dari Tuhan.
Untaian doa yang mampu membuat gw terlelap malam tadi.
Untaian doa yang akan selalu gw perdengarkan sampai ke dekade berikutnya. Amin.

03 Juni 2013

Harapan, Perjuangan, Putus Asa, Bangkit Kembali, dan Tercapainya Impian

Tulisan saya kutip dari situs http://indonesiamengglobal.com . Situs berbagi informasi dari pelajar Indonesia yang berjuang di luar negeri.

Seumur hidup gw baca tulisan tentang perjuangan meraih beasiswa, baru kali ini gw baca tulisan yang ada "ruh" di dalamnya. Gw turut empati dengan perjuangan penulis dalam meraih impiannya.

Tulisan di bawah ini saya kutip seizin dari penulisnya sendiri, mas Andri Taruna. Semoga tulisan ini dapat membuat kita semua lebih gigih lagi dalam meraih impian studi ke luar negeri.


SEBUAH JAWABAN: APAKAH BISA IPK DAN SKOR TOEFL RENDAH MENDAPATKAN BEASISWA KE LUAR NEGERI?

Tulisan saya ini ingin mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang sering muncul di forum para pemburu beasiswa. IPK pas pasan (< 3.0)? Nilai TOEFL rendah? Mungkinkah anda mendapat beasiswa ke luar negeri? Jawaban saya adalah tentu saja mungkin. Mengapa saya berani membuat pernyataan seperti itu? karena saya punya bukti nyata, yaitu saya sendiri. Bagaimana caranya? akan saya coba tuliskan pada tulisan ini. Namun yang saya tuliskan disini adalah sebuah proses panjang perjuangan mendapatkan impian saya yang bukan proses “sekali jadi” namun akumulasi dari lebih dari 15 kali percobaan aplikasi selama 3 tahun berturut-turut. Tulisan ini tidak membahas tentang teknikal cara mendapat beasiswa namun lebih kepada memotivasi para rekan pemburu beasiswa bahwa semuanya mungkin jika anda berusaha…

Saya adalah salah satu lulusan “menengah ke bawah” yang dalam artian disini IPK-nya dibawah 3 dari Departemen Biologi IPB. TOEFL prediction pertama saya ketika lulus adalah 465. Pastinya banyak orang yang berasumsi bahwa mustahil dengan modal nilai rendah begini bisa dapat beasiswa. Bahkan mimpipun tidak pantas. Tapi masa depan anda bukanlah berasal dari pendapat negatif orang lain. Andalah penentu masa depan anda. Jika anda bertanya apa mimpi orang “pas-pasan” seperti saya ini setelah lulus, impian saya ada 2: menjadi peneliti sukses dibidang saya dan tentu saja mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Selang setahun dari kelulusan, Puji Tuhan saya diterima sebagai peneliti di salah satu institusi pemerintah. Itupun setelah tes CPNS sana sini (9 kali coba  di semua kementerian dan institusi riset yang ada formasi Biologi… dan hasilnya 8 gagal 1 diterima). Dari sini memang sudah terlihat bahwa saya ini termasuk ngotot kalau ingin mendapatkan sesuatu. Dari situ, saya mengabdi di Kalimantan Selatan sejak 2009. Sejak itulah saya mulai merealisasikan impian saya menjadi kenyataan. Tentu saja nilai TOEFL bisa ditingkatkan dengan belajar baik secara otodidak maupun melalui kursus. Tentu saja disini anda harus berkorban biaya dan waktu. Karena saya disana menyambi kerja mengajar setelah jam kantor karena gaji CPNS itu sangat minim sekali, dan konsekuensinya  waktu benar benar terkuras. Disana jarang ada lembaga kursus yang bagus untuk TOEFL,  jadi jika anda berada di kota-kota besar, bersyukurlah dan jangan mengeluh tidak ada waktu. Saya berusaha semampu saya belajar otodidak namun ternyata skor saya mentok di 520. Dengan modal skor TOEFL ini saya mendaftar ADS dan short course StuNed dan Pre-StuNed (khusus luar jawa dan sekarang programnya sudah tidak ada lagi) untuk pertama kalinya dan semuanya gagal. Sedih, kecewa, marah dan tentu saja saya hampir menyerah waktu itu, namun satu kalimat penyejuk yang datang dari sahabat saya yaitu di mana ada keinginan di situ ada jalan. Kalimat itu selalu mengingatkan saya dan saya terus berusaha semampu saya. Saya tidak punya pilihan lain selain terus berusaha atau hanya bermimpi saja.

Selang beberapa waktu kemudian saya dikenalkan oleh empunya tempat saya bekerja dengan salah satu dosen universitas negri Lambung Mangkurat yang notabene alumni ADS. Saya beranikan diri saya kursus privat dengan beliau dan setelah 3 bulan akhirnya skor saya menembus 550. Itu juga tesnya saya sempat-sempatkan di Jakarta sewaktu saya dinas ke sana. Beliau jugalah yang mengajarkan saya tips-tips tentang beasiswa terutama ADS. Serunya lagi salah satu dari kedua guru saya disana diterima beasiswa Fulbright dan akan berangkat ke AS semester depan… wajar saya, muridnya saja lolos pastinya gurunya pun lolos. Namun sekali lagi sebagai orang yang pas-pasan saya tidak memasang target alias saya daftar semua beasiswa yang tersedia di Indonesia. Di tahun 2010, saya coba semua beasiswa dalam dan luar negeri dari ADS, DAAD, NZ-Asean, Fulbright, StuNed, NFP, Monbukagakusho, VLIR-UOS, Erasmus Mundus, dan Bappenas. Hasilnya Nol besar. Satu tahun berlalu dengan kegagalan yang bertubi-tubi. Di sini akhirnya saya berada di posisi di mana kegagalan adalah biasa dan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah berusaha memperbaiki semua aplikasi mulai dari CV, essay, application form dan surat rekomendasi. Banyak blog para peraih beasiswa yang bisa anda baca di internet dan beliau-beliau itu orang baik dan pasti merespon pertanyaan anda jadi jangan sungkan untuk bertanya.

Satu hal positif yang saya tangkap dari pengalaman ini adalah bagaimana bijaksananya pimpinan kantor anda dan juga dosen pembimbing skripsi anda dulu dalam memberikan rekomendasi. Ingat, rekomendasi adalah faktor yang tak kalah penting dalam aplikasi anda. Puluhan surat rekomendasi yang saya minta belum berhasil menembus kerasnya seleksi beasiswa, namun mereka tetap menyemangati saya dan tanpa hentinya memberikan rekomendasi. Dosen pembimbing saya ini sudah saya anggap ibu saya sendiri. Beliau inilah yang menempa saya dulu, mengikuti Pekan Karya Mahasiswa Tingkat Nasional bersama rekan saya satu lab dan juga mengikuti satu seminar internasional untuk publikasi skripsi saya. Pengalaman ini juga menjadi tinta emas yang menutupi kekurangan saya dalam IPK. Pengalaman organisasi dan leadership juga menjadi pertimbangan dalam aplikasi anda, jadi berusalah bersosialisasi di kampus anda. Dan juga baik-baiklah anda terhadap pembimbing anda karena beliaulah yang akan menuliskan surat rekomendasi untuk anda. Tetap jaga komunikasi dengan beliau, mungkin di satu saat anda akan bekerjasama dengan beliau bukan sebagai pembimbing dan mahasiswa, namun sebagai kolega peneliti. Beliau pasti akan sangat bangga akan anda, dan tentu saja melihat ibu anda bahagia adalah kebahagiaan sendiri untuk anda. Di sisi lain, Kepala unit saya di kantor juga menasehati saya terus menerus. “Jangan menyerah nanti juga tembus”, kata beliau. Sungguh beliau-beliau ini adalah inspirasi saya untuk terus mencoba. Bahkan pada saat saya menyampaikan kegagalan saya, beliau hanya berkomentar, “OK, belajar dari kegagalan kamu lalu coba yang lain juga, ga usah dipikirin yang sudah gagal itu.”

Sambil terus memoles aplikasi saya, saya mencoba mengikuti tes TOEFL iBT dengan harapan jika saya mendapatkan skor yang cukup saya bisa memperluas aplikasi beasiswa tidak hanya terbatas pada kerjasama antar negara tapi juga bisa apply langsung di kampus tujuan (karena biasanya tiap kampus berskala internasional punya beasiswa sendiri untuk mahasiswa internasional). TOEFL iBT ini hanya bisa diakses di kota-kota besar, dan harganya mahal namun sekali lagi menurut saya pengorbanan itu diperlukan untuk mendapat hasil yang terbaik. Semua biaya dari tiket pesawat, voucher untuk tes, buku untuk belajar saya keluarkan dari kantong sendiri walau harus berhutang. Entah sudah berapa rupiah yang saya keluarkan untuk aplikasi saya, namun tidak satu rupiah pun yang saya sesali. Akhirnya nilai iBT itu pun keluar… berbekal belajar otodidak dan kursus privat hampir dua bulan lebih, puji syukur saya berhasil mendapatkan skor di atas 80. Permulaan yang bagus untuk aplikasi baru di tahun 2011 waktu itu. Sampai dengan bulan Juni 2011 saya kembali mendaftar beasiswa StuNed, NFP, ADS, Fulbright dan Monbukagakusho.

Ada hal baru yang saya lakukan kali ini: saya mencoba mendapatkan satu surat rekomendasi dari seorang guru besar IPB yang namanya sudah go international dan pernah mengajar satu mata kuliah saya dulu dan terus terang saya kagum sama beliau ini. Tentu saja awalnya saya ragu namun akhirnya email saya dibalas kurang dari 24 jam dan beliau meminta saya membuat draft surat rekomendasi tersebut. Selama ini pemahaman saya terhadap para petinggi ini adalah mereka sangat sibuk dan tidak mungkin mereka akan peduli terhadap lulusan pas-pasan seperti saya ini. Namun opini itu musnah ketika saya mendapatkan balasan dan dukungan yang sangat positif dari beliau. Sungguh memang tidak ada usaha yang sia-sia. Pada akhirnya untuk pertama kali dalam sejarah, saya mendapatkan email dari AMINEF perihal jadwal wawancara di Jakarta untuk beasiswa Fulbright… dan juga disaat yang hampir bersamaan saya mendapatkan email penolakan dari StuNed dan NFP.

Waktu itu saya sampai membaca undangan wawancara tiga kali untuk memastikan bahwa email itu bukanlah email penolakan. Tapi ternyata benar, itu email undangan wawancara. Walaupun ada 2 email penolakan, namun 1 email undangan ini menutupi semua kesedihan saya. Berbagai usaha saya lakukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, mulai dari menyusun “skenario” jawaban dan perkenalan diri sampai dengan penelitian yang sudah saya lakukan dan apa yang akan saya teliti sewaktu di AS. Wawancara kali ini memang menitikberatkan pada esai yang sudah kita buat dan juga resume. Untuk beasiswa Fulbright ini, kandidat master degree dipersyaratkan untuk membuat 2 esai yaitu personal statement dan study objective. Saya kira sudah banyak tulisan yang membahas bagaimana membuat esai yang sempurna untuk aplikasi beasiswa jadi saya tidak akan membahas hal ini lebih lanjut di sini. Satu hal yang menarik, pewawancara sama sekali tidak menanyakan perihal banyaknya nilai C di transkrip saya. Mereka lebih menekankan visi misi ke depan, prospek penelitian saya, kampus tujuan saya dan bagaimana saya akan kembali ke Indonesia tercinta dan menerapkan ilmu yang sudah akan saya dapatkan nantinya. Pada saat wawancara ada 4 orang pewawancara dan mereka punya bidang keahlian yang berbeda-beda sehingga anda harus mengunakan bahasa yang dapat dimengerti semua orang dan jika ada istilah yang spesifik usahakan menjelaskan apa artinya. Sewaktu ditanya perihal kampus tujuan di AS, kebetulan pada saat wawancara saya sudah ada dua target kampus di AS, satu rekomendasi dari dosen saya dan satu lagi adalah satu profesor yang banyak membantu skripsi saya waktu S1 dulu. Secara garis besar saya cukup percaya diri sewaktu wawancara kala itu dan yakin saya akan lanjut ke proses selanjutnya.

Waktu pun berlalu… sampai awal agustus 2011, belum ada pengumuman sama sekali perihal hasil wawancara beasiswa Fulbright tersebut. Saya sudah mendengar gosip bahwa ada berberapa temannya teman saya yang sudah dinyatakan lulus wawancara dan lanjut ke tahap berikutnya. Saking penasarannya saya pun memberanikan diri menelpon pihak AMINEF dan menanyakan hasil interview tersebut. Tentu saja perasaan saya kala itu sangat gugup dan terus terang saya takut akan hasil tersebut. Akhirnya saya menelpon dan saya menanyakan apakah hasil interview sudah keluar dan pihak AMINEF menjawab sudah. Tentu berikutnya saya menanyakan apakah nama saya ada di daftar kandidat, dan ternyata hasilnya nama saya tidak ada. Sungguh saat itu perasaan saya hancur lebur. Rasanya seperti menjadi pecundang yang terlantar. Saya berusaha berpikir positif karena di saat yang sama saya sedang proses beasiswa Bappenas dan saya pun percaya diri akan lolos ke tahap berikutnya.

Dua minggu kemudian pun saya mendapatkan pengumuman untuk beasiswa Bappenas dan saya dinyatakan gagal. September 2011 menjadi bulan kelabu untuk saya. Kekecewaan yang sangat dalam dan juga perasaan rendah diri karena kegagalan bertubi-tubi sangat mendera saya waktu itu. Saya sudah mencapai titik terendah dalam usaha saya mencapai impian saya. Saya berpikir cukup sekian usaha saya. Sepertinya hampir sebulan saya “cuek” dan menjalanin hidup apa adanya dengan kerjaan rutin di kantor. Nasehat para sahabat dekat saya agar saya tetap berusaha sepertinya hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan saja. Saya menjauh dari pergaulan dan berusaha menyendiri.
Sampailah saya di bulan oktober 2011, di mana saya kembali berani setidaknya mencoba bermimpi. Foto-foto teman saya yang sedang belajar di negeri orang kembali menggelitik naluri “scholarship hunter” saya. Saya putuskan kembali mencoba apply short-course untuk beasiswa StuNed walaupun hasil akhirnya adalah kegagalan pada saat itu. Selang seminggu kemudian, saya mendapatkan email dari AMINEF. Email yang cukup panjang, dan terus terang saya kurang paham apa isinya. Kala itu saya berpikir mungkin ini adalah email resmi penolakan dari Fulbright untuk beasiswa saya jadi saya cuekin saja karena siang itu kebetulan ada jadwal rapat di kantor. Ketika saya sedang rapat, ada telepon masuk ke HP saya. Saya lihat nomornya dari Jakarta, jadi saya keluar ruang rapat dan mengangkat telpon berikut. Ternyata yang menelpon saya adalah salah seorang staf dari AMINEF, dia mengabarkan kalau saya di terima sebagai alternate candidate Fulbright. Tentu saja saya kaget menerima berita tersebut. Walaupun setelah saya baca kembali email tersebut dengan detil, alternate candidate hanya diberangkatkan apabila ada dana tambahan dari Fulbright atau mungkin jika ada principal candidate yang mengundurkan diri. Terus terang saya masih takut kala itu dan sekaligus berapi-api mendapatkan beasiswa ini. Belakangan ini setelah saya bertanya-tanya saya baru tau bahwa ternyata setelah penolakan saya, pihak Fulbright mendapat jatah lebih. Jadi saya yang notabene adalah cadangannya cadangan ini berhak ikut seleksi lebih lanjut.

Ada satu cerita unik disini dimana saya diminta membuat ulang surat rekomendasi yang sebelumnya telah saya mintakan ke dosen pembimbing saya namun belum dalam format yang diminta AMINEF. Sedikit panik kala itu karena saya tau salah seorang profesor yang saya minta tanda tangannya ini sangat sibuk dan ketika saya email, beliau bilang akan pergi dinas ke luar kota dalam 2 hari jadi beliau menanyakan apakah saya bisa bertemu besok harinya di Jakarta untuk menandatangani surat tersebut (kala itu saya masih di kantor di Kalimantan Selatan dan besoknya masih hari kerja). Lalu bagaimana jawaban saya? tentu saja saya menyanggupi. Baru kali itu saya memesan tiket pesawat Banjarmasin-Jakarta PP untuk hari yang sama tanpa melihat harganya. Yang penting berangkat paling pagi dan pulang paling sore, lalu mengurus ijin satu hari kerja dari kantor. Hari itu benar-benar hari yang melelahkan, pagi-pagi buta ke Jakarta, lalu menemui profesor saya dan kembali ke kantor AMINEF untuk menyerahkan berkas dan kembali ke Banjarmasin. Profesor tersebut sempat bertanya kepada saya, “bukankah anda ini bekerja di luar Jawa?” Saya cuma tersenyum manis dan serasa seperti eksekutif muda yang berkunjung demi mendapatkan bisnis baru. Memang kalau menyangkut beasiswa, saya tidak pernah memeriksa isi rekening atau dompet sehingga tau-tau sudah ludes saja.

Untuk proses seleksi dari beasiswa Fulbright selanjutnya adalah tes TOEFL iBT dan GRE. Saya sudah sangat familiar untuk tes iBT namun GRE ini saya baru mendengar jadi saya putuskan untuk mencoba belajar dengan membeli beberapa buku. Sungguh melihat kosakatanya disana saja sudah membuat hati ini menangis tersedu-sedu. Skor kala itu jika ingin diterima di universitas di AS konon katanya 1000/1600. Saya langsung panik setengah mati, terlebih undangan dari AMINEFnya mengharuskan saya tes iBT dan GRE dalam dua hari berturut-turut. Terakhir saya tes iBT saja pulangnya sudah lemas terkulai tak berdaya, bagaimana caranya saya bisa melanjutkan tes GRE keesokan harinya? Waktu itu saya diberi waktu 3 minggu sebelum tes. Di Kalimantan Selatan tidak ada 1 lembaga apapun yang menyediakan kursus GRE dan alumni AS yang saya tanya pun hanya berkomentar, “baca baca saja bukunya”.

Perlu saya ingatkan, saya ini bukan orang yang pintar, apalagi jenius… saya ini hanyalah orang yang “ngeyel” dan susah disuruh menyerah apalagi menyangkut impian saya. Entah kenapa ada saja jalan yang diberikan oleh sang Kuasa kepada saya. Pada saat itu saya ditugaskan oleh kantor untuk mengikuti diklat di Jakarta. Saya melihat ini sebagai kesempatan mencari “guru” untuk belajar. Setelah mengubek internet akhirnya saya menemukan beberapa institusi yang menawarkan jasa untuk kursus GRE namun waktunya tidak cocok karena dari pagi sampai sore saya ada training dan rata-rata tempatnya agak jauh dan dengan kondisi lalu lintas Jakarta setelah jam pulang kantor, hal tersebut menjadi mustahil untuk saya. Namun, setelah penyelidikan lebih dalam saya menemukan seorang native speaker yang memberikan private lesson. Tanpa berpikir biaya yang akan dikeluarkan saya memutuskan untuk les privat GRE. Saya melakukan semua hal ini semata-mata karena saya merasa bodoh dan baru dengan tes tersebut dan saya tidak akan mempertaruhkan impian saya dengan mencoba-coba, jadi apapun yang saya bisa lakukan walau harus banyak berkorban akan saya jalani. Dua minggu itu adalah dua minggu yang terberat dalam usaha saya mendapatkan beasiswa. Saya menjalani training selama dua minggu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dan dilanjutkan les privat dari jam 7 sore sampai hampir tengah malam. Tiap hari senin-jumat dan sabtu minggunya saya juga les dari pagi sampai sore. Semuanya demi GRE. Sungguh saya sampai salut dengan diri saya sendiri kala itu bagaimana saya bisa belajar seserius itu karena saat kuliah S1 dulu saya ini terkenal malas. Bahkan guru GRE saya juga sampai geleng-geleng kepala kewalahan meladeni keinginan belajar saya.
Akhirnya tes pun dimulai dan hasilnya GRE langsung keluar. Puji Tuhan sesuai target, dan TOEFLnya pun di atas 85. Namun ternyata AMINEF kurang puas, saya mendapat email untuk mengulang kedua tes tersebut. Benar benar luar biasa. Dalam dua bulan, saya menjalani empat tes kemampuan bahasa Inggris yang sangat sulit. Tapi Puji Tuhan lolos semuanya. Perjuangan meraih pendidikan di AS dilanjutkan dengan proses aplikasi ke pihak universitas. Sebelum saya mendapatkan LoA, tetap saja saya tidak akan bisa berangkat ke AS.

Akhirnya 2011 pun berlalu dan 2012 pun datang. Bulan-bulan awal dari Januari sampai April saya hanya bisa pasrah menunggu jawaban dari pihak universitas yang saya tuju. Kala itu saya mendaftar ke Michigan State University, University of California Davis, University of Arizona, dan Syracuse University. Surat pertama yang saya dapatkan adalah surat penolakan dari Michigan State University yang bertuliskan bahwa pihak universitas tidak yakin bahwa saya sanggup menempuh pendidikan di sana. Saya pasrah saja, karena memang dari segi nilai saya pas-pasan. Di kala itu, IIE meminta saya mengontak langsung profesor di Arizona. Puji Tuhan dari lima profesor yang saya hubungi, ada satu orang yang bersedia menampung saya dan empat lainnya menolak saya. Namun perjuangan belum berakhir. Dari aplikasi online saya belum mendapat jawaban dari pihak universitas. Saya berusaha menemukan mahasiswa Indonesia di Arizona untuk membantu saya dan disanalah saya bertemu dengan mbak Sidrotun Naim yang kebetulan adalah mahasiswi PhD dan satu jurusan dengan saya. Tanpa beliau, saya pasti sudah ditolak dari Arizona. Ternyata pihak universitas masih ragu dengan status “alternate candidate” dan juga ternyata saya membuat kesalahan dalam pengisian aplikasi online. Akhirnya mbak Sidrotun Naim inilah yang mendatangi pihak departemen dan menjelaskan status Fulbright saya dan meminta saya mengirimkan ulang aplikasi saya. Kala itu saya mendapatkan LoA dari pihak Syracuse denganshortfall sebesar $500. Saya belum membuat keputusan kala itu jadi status saya masih mengambang.

April 2012, saya mendapatkan email dari pihak Ghent University terkait dengan aplikasi beasiswa VLIR-UOS saya ke Belgia. Saya baru ingat kalau saya juga mendaftar beasiswa tersebut Desember 2011. Karena status yang belum pasti untuk beasiswa Fulbright saya putuskan tetap menjalani proses interview beasiswa VLIR-UOS ini. Namun mereka meminta jadwal interview ketika saya sedang dinas di Jogjakarta, dan tentu saja saya memerlukan koneksi internet dengan bandwidth yang besar untuk interview melalui Skype. Waktu itu saya bingung bukan kepalang. Saya minta pihak hotel untuk menyewa satu ruangan dengan high speed internet connection dan harganya sangat tidak realistis. Maka solusi kala itu adalah warnet atau kafe yang menyediakan wifi dengan kecepatan tinggi. Di dekat tempat saya menginap saya menemukan sebuah kafe yang menyediakan fasilitas wifi kecepatan tinggi dan sewaktu saya tes ber-skype ketika sendirian di kafe hasilnya cukup memuaskan. Namun, waktu interviewnya adalah peak time pelanggan datang sore hari. Tanpa berpikir panjang saya putuskan untuk mem“booking” satu lantai di kafe selama dua jam. Manager tempat tersebut sempat bingung dan kaget namun akhirnya bertanya ke ownernya dan mereka setuju. Tentu saja harganya jauh lebih ekonomis dibandingkan sewa ruangan di hotel. Sebelum berangkat ke AS pun saya berterima kasih kepada mereka dengan menelpon dan pihak kafe pun menyatakan selamat kepada saya. Nanti ketika saya kembali ke Indonesia dan sempat main ke Jogja, maka kafe inilah tempat pertama yang akan saya kunjungi. Saya masih ingat tempat saya “mojok” ketika interview berlangsung. Interview yang luar biasa, pertanyaan mereka sungguh detil dan visioner. Kala itu saya berada di posisi 30% dan untuk mendapatkan beasiswa saya harus berada di posisi 10% teratas. Pengumuman beasiswa ini akan dilakukan pada bulan Juni 2012. Mari kita lupakan dulu VLIR-UOS ini dan fokus ke beasiswa Fulbright.

Atas bantuan mbak Sidrotun Naim, saya mendapatkan LoA dari Universitas of Arizona dan akhirnya menerima undangan Fulbright Pre-Departure meeting di Lombok dari AMINEF. Status saya naik menjadi principal candidate dan dipastikan berangkat ke AS walaupun kala itu kampus tujuannya masih TBD (To be Determined). Ketika mendapatkan berita tersebut, sungguh gembira hati saya… tidak dapat diungkapkan dengan kata kata lagi. Jiwa raga saya berteriak kegirangan!!! Perjuangan tiga tahun lebih terbayar sudah… 16 kali kegagalan akhirnya ditutupi dengan 1 keberhasilan. Mungkin jika saya berhenti dan menyerah pada percobaan ke 10, 11 atau ke 12 maka hanya sampai disanalah saya… tidak akan menemukan keberhasilan yang kala itu masih berada di pintu jalan yang lain. Pada saat Pre-Departure pun saya bertemu dengan kandidat Fulbright yang lain. Mereka adalah pribadi yang sungguh luar biasa. Mereka adalah teman, sahabat dan keluarga saya sekarang. Sungguh kebanggaan bagi saya menjadi salah seorang kandidat. Ada satu momen bahagia lagi: saat sudah mendapatkan Term of Agreement (kontrak dari fulbright) untuk mendapatkan pre academic program di California Davis (salah satu kampus yang menolak saya), saya mendapatkan satu email dari pihak VLIR-UOS dan Ghent University yang menyatakan bahwa saya diterima beasiswa master di Belgia selama dua tahun dan saya diminta segera membuat passport dan apply Visa ke Belgia.

Perasaan saya kala itu sungguh tidak dapat diungkapkan dengan kata kata. Seseorang dengan IPK DIBAWAH 3 dan nilai TOEFL perdana hanya 465 bisa mendapatkan 2 beasiswa master degree ke luar negeri, impian saya tercapai dan justru saat itu saya malah kebingungan memilih karena kedua universitas adalah kampus yang terkenal dengan Environmental Science-nya dan publikasi risetnya sudah mendunia. Setelah bergumul, bertanya ke sana kemari dan membandingkan keduanya saya memilih belajar ke Universitas of Arizona. Namun perlu diingat, perjuangan ini belum selesai…. Sebagai manusia biasa yang kala itu baru pertama ke luar negeri dan belajar dalam bahasa inggris, tantangan itu masih sangat besar. Saya akan mencoba menuliskan hal tersebut pada tulisan lain, namun pesan saya disini untuk para pemburu beasiswa SEMUANYA ITU MUNGKIN!!! JANGAN PERNAH ANDA MENYERAH!!! LAKUKAN SEMUA YANG ANDA BISA!!! BEASISWA itu bukan mutlak milik orang JENIUS, tapi juga bagi orang yang terus BERUSAHA dan PANTANG MENYERAH!! Jangan pernah anda membatasi usaha anda untuk mencapai usaha anda. Materi itu bisa dicari kemudian, namun kesempatan beasiswa ke luar negeri mungkin hanya akan datang sekali seumur hidup. Penyesalan selalu datang kemudian, maka jangan pernah anda sesali apa yang anda tidak lakukan pada kehidupan anda sekarang. Bagi saya sekarang, impian saya adalah segalanya dan saya sekarang sedang berjalan di atasnya. Bagaimana dengan anda??

Andri Taruna Rachmadi
Soil, Water and Environmental Science
University of Arizona
andri.taruna@gmail.com