22 Januari 2011

Review: Pengabdi Setan (1980)

Bermula dari obrolan ngalor ngidul berbagai macam topik di kantin TIM bareng kak Andibachtiar 'ucup' & neng Chekka selepas nonton HOPE di Kineforum hari Senin tanggal 17 Januari 2011 kemarin (review buat HOPE nyusul yes :-D), entah kenapa gw jadi tergugah buat nyari film-film Indonesia yang sudah lawas (jadul/kuno/antik). Mungkin otak gw sudah sukses di-insepsi ama Ucup tentang kerennya film Indonesia zaman tahun 70an-80an, jaman dimana Ucup masih bocah & cukup sentimentil dengan film2 romansa yang dibintangi Roy Martin, dll serta disutradarai Wim Umboh, dll. haha.

Sesampainya di rumah, gw langsung coba cari informasi film-film Indonesia apa yang dianggap keren pada masanya. Setelah googling sana googling sini, gw tertarik pada satu judul film dan jelas judul film ini secara eksplisit menandakan kalau ini film genre horor. Judulnya "Pengabdi Setan" yang merupakan Film Nasional yang dirilis pada tahun 1980, disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra, bintang utama Ruth Pelupessy & WD Mochtar.
gambar 1. Cover VCD "Pengabdi Setan"

Menurut keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber yang bermuara di google dan wikipedia, film ini pada masanya dikenal sebagai salah satu dari beberapa film horor awal yang menggantikan tema horor yang diwarnai kepercayaan Kristen atau Buddha dengan kepercayaan Islam. Film ini juga sangat terkenal pada masanya bahkan sampai di dunia internasional, serta sempat dirilis dalam berbagai format seperti VHS dan kemudian DVD di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Cukup untuk membuat gw yakin untuk segera mengunduh film ini dari salah satu situs laman file-hosting tercinta di Indonesia. hehe.

Sinopsis:
Awal film dibuka dengan adegan pemakaman seseorang. Belum diketahui siapa yang dimakamkan, akan tetapi sutradara menunjukkan fokus adegan pada beberapa karakter utama di film ini yaitu seorang Bapak: Hendarto (WD Mochtar), Anak Perempuan: Rita (Siska Karabety), & Anak Lelaki: Tomi (Fahrul Rozi). Di adegan selanjutnya yaitu Tahlilan di rumah keluarga, baru diketahui ternyata yang meninggal adalah istri dari pak Hendarto, sekaligus ibu dari Rita & Tomi. Nah, keanehan mulai muncul malam ini dimana si Tomi melihat sosok "mirip" Ibu (gambar 2) yang memanggil-manggil Tomi.
gambar 2. sosok "mirip" Ibu yang memanggil







" Tomiii.... Tomiii...."   suara hantu Ibu yang sayup-sayup memanggil anaknya
-____-a 

Keesokan harinya Tomi yang sepertinya masih belum bisa menerima kematian Ibu, bersikap aneh kepada Rita di pemakaman. Akhirnya dengan motor trail kebanggannya, Tomi langsung pergi dari makam ke rumah teman-temannya nongkrong. Nah, disini si Tomi dapat "pencerahan" dari salah seorang temannya (gambar 3) yang mengatakan pada Tomi untuk bertemu Peramal supaya tidak perlu bersedih lagi, karena si teman ini ketika Ibunya meninggal, doi juga dapat saran dari peramal. Eyaaa, apa poinnya ya? Supaya gak sedih, jadi kudu ketemu peramal? haha. Klo gw sih, mending cari "hiburan" aja.
Gambar 3. teman Tomi yang ngasih "pencerahan"
Dan pergilah Tomi ke Peramal (gambar 4). Nah kata si Peramal, Tomi beserta keluarga bakal kena bahaya yang besar. Oleh karena itu supaya terlindung dari bahaya, Tomi harus memperkuat diri dengan ilmu-ilmu hitam! Ini nyonya peramal atau dukun santet yes?
Gambar 4. Peramal Eksentrik. Epik banget ya adegan ini! Meramal + Sanggul + Kacamata Hitam + Merokok = Legend!
Akhirnya selama di rumah, Tomi mulai deh "ngilmu".Ketika lagi belajar "ngilmu" di kamar Tomi, ada adegan yang gw nilai malah jadinya kocak padahal gw yakin maksudnya pasti nakutin. Itu adegan dimana Tomi mau mencekik Rita, tapi Rita cuma melawan seadanya dan kemudian ada suara telepon berdering sehingga Tomi berhenti mencekik Rita. Adegan yang maksa banget... kenapa gak sekalian aja dicekik sampai tewas si Rita, kan jadi seru pasti lanjutanya.


Nah, berhubung sekarang rumah jadi sepi karena Ibu baru saja meninggal dan penjaga rumah Pak Karto (HIM Damsyik) sudah mulai sakit bengek, Pak Hendarto memutuskan untuk menyewa jasa pembantu rumah tangga. Dalam sekejap, datanglah Darminah (notabene si peramal yang menganjurkan Tomi untuk "ngilmu") untuk membantu rumah.  Sejak kedatangan Darminah, dimulailah teror-teror mencekam di rumah dan juga orang-orang yang dekat dengan keluarga bernasib buruk. Pacar Rita tewas terbunuh dengan keji (dengan prosesi kematian yang serba aneh dan sebaiknya ditonton sendiri aja saking gw ga bisa komentarnya....) + Pak Karto yang juga terbunuh dengan misterius (asli, misterius banget, kekunci di gudang koq besoknya jadi kegantung....). Dan juga berbagai macam kejadian freak lainnya (misal: Tomi yang lagi sholat, tapi tiba-tiba jendela kamar pecah. Gak taunya hantu nyokap ngelarang Tomi sholat......)


Film ini akhirnya mencapai klimaks ketika hantu Ibu + hantu Pacar Rita + hantu Pak Karto (trio hantu gokil atau malah lebih tepat disebut trio zombie?) semuanya bersatu padu menyerang Pak Hendarto + Rita + Tomi. Sungguh 15 menit sebelum tamat itu merupakan kumpulan adegan sarat gambar-gambar yang mungkin kurang nyaman untuk dilihat. Darah zombie pak Karto yang muncrat bewarna kehijauan dan ada juga daging tangan zombie Pacar Rita yang gampang kopek udah kayak daging kornet.... Epik! Belum lagi ekspresi Rita saat ketakutan yang sangat "ekspresif" (gambar 5)
gambar 5. EKSPRESIF!
Pada akhirnya ketika trio zombie & Darminah yang tiba-tiba berubah wujud menjadi sosok wanita dengan pakaian hitam + rambut disasak berkonfrontasi dengan Pak Hendarto, Rita, & Tomi di penghujung cerita, akhirnya konflik utama dari film ini terungkap. Kenapa Darminah mengganggu keluarga Pak Hendarto? Lalu bagaimana akhirnya nasib Pak Hendarto beserta Rita & Tomi? Semua terjawab di film berdurasi 91 menit ini.


Menurut wikipedia, film Pengabdi Setan ini memiliki kemiripan alur cerita dengan film AS tahun 1979 berjudul Phantasm yang disutradarai Don Coscarelli. Hebatnya, Pengabdi Setan bahkan menjadi semacam cult movie di antara fans horor Asia terutama di zamannya. Wow, bayangkan betapa dahsyatnya antusiasme masyarakat Asia terhadap film ini ketika Pengabdi Setan baru dirilis. Jauh sebelum ada film The Ring, Ju On, Shutter, dan film horor Asia yang menjadi cult lainnya, film asal Indonesia ini sudah mendapatkan tempat khusus tersendiri di kalangan pecinta film horor.
Mungkin dengan menggunakan formula film horor nasional yang lazim di zamannya (pertentangan yang jelas antara good vs evil) + bumbu "Religius" sebagai konklusi + adegan tamat yang mengambang, film ini dapat terpatri di ingatan pecinta film nasional dan juga internasional.

Tidak perlu sosok bintang film porno dari Jepang sebagai ramuan sukses film ini.
Tidak perlu special effect yang wah sebagai ramuan sukses film ini.
Bayangkan di tahun 1980, Anda menonton film ini di layar tancap dan kemudian Anda harus pulang sendirian ke rumah. Terbayang betapa menyeramkannya nuansa film ini dahulu.
Belum lagi adegan ketika Tomi diganggu ketika sedang mendirikan shalat. Ada tanggapan menarik di salah satu forum oleh seorang anggota forum yang menyatakan: "Dulu, gw sampai takut sholat gara-gara film ini!". Pesan moral di film ini salah satunya adalah jangan meninggalkan ibadah (dalam hal ini sholat) jika tidak ingin diganggu setan. Eh malah dikasih anti-tesis di filmnya yaitu ketika si Tomi sholat justru digangguin setan... dan si setan itu Ibunya si Tomi... Arwah Ibu melarang anaknya sholat... Jenius!
(+ gw selalu suka film Indonesia zaman dahulu yang masih menggunakan bahasa Indonesia yang baku, walau ada beberapa adegan juga kalimat-kalimat yang dilontarkan kurang nyambung, tapi okelah, dapat dimaklumi :D)

Film ini sendiri rasanya bagi gw meninggalkan tantangan penting bagi generasi muda seperti kita-kita ini. tantangannya kurang lebih seperti ini "Eh, film Indonesia jaman dahulu aja udah menjadi cult bagi fans horor dunia sampai-sampai dikagumi & dicari di Asia, Eropa, bahkan Amerika. Film Indonesia jaman sekarang, terutama film horornya bisa gak kayak gini?"
Bisa?









Pengabdi Setan (1980)
Rumah Produksi: Rapi Film
Sutradara: Sisworo Gautama Putra
Pemeran:
  • WD Mochtar : Pak Hendarto
  • Siska Karabety : Rita
  • Fahrul Rozy: Tomi
  • Ruth Pelupessy: Darminah
  • HIM Damsyik: Pak Karto

2 komentar:

Chekka Cuomova mengatakan...

diliat dari poto2nye nih, make-up wise gua kagum banget taun 80an udah bisa bikin makeup lelembut yg hits gitu. akyu jadi fenasaran

Narita Helgania mengatakan...

Ngakak sampe terkencing2 gua baca review lo nyet!!! LOL